Showing posts with label partai amanat nasional. Show all posts
Showing posts with label partai amanat nasional. Show all posts

Thursday, 1 November 2018

PAN Hattrick! Bupati, Gubernur, dan Wakil Ketua DPR-nya Jadi Tersangka Korupsi. Fiuuhh…


Kita tahu, Setya Novanto pernah menjadi ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun jabatan ini harus ditanggalkan oleh politisi Partai Golkar tersebut. Karena dirinya menjadi tersangka kasus korupsi KTP elektronik (e-ktp). Papa Setnov pun tak lagi menjadi ketua dewan, dan digantikan oleh Bambang Soesatyo.
Mendengar fakta ini, reaksi kita barangkali sudah biasa-biasa saja. Karena sebagai rakyat, kita sudah terlampau sering mendengar berita penangkapan anggota dewan lantaran terjerat kasus korupsi.
Ya, mungkin kita sudah tak begitu peduli. Ketika terdapat anggota DPR yang tersangkut korupsi. Entah itu anggota DPR pusat, maupun yang berada di daerah. Rasanya seperti silih berganti, para anggota dewan yang harus berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lalu dengan tergopoh-gopoh, mereka terlihat keluar dari gedung KPK dengan mengenakan rompi oranye.

Friday, 21 September 2018

Trims Mata Najwa! Caleg Mantan Koruptor Mungkin Bakal Punya ‘Wajah Baru’


Ya, aku mau menyampaikan terima kasih kepada Mata Najwa. Talkshow yang tayang tiap Rabu malam di Trans 7 ini, menurutku telah melakukan tugasnya sebagai watchdog. Sebagai ‘anjing penjaga’.
Sebagai watchdog, idealnya media bertugas sebagai corongnya masyarakat. Media bisa menyuarakan apa yang dirasakan oleh warga. Agar suara-suara yang mungkin kurang terdengar, dapat tersampaikan ke pihak-pihak terkait. Dan lebih didengarkan oleh penguasa.
Najwa Shihab, pembawa acara Mata Najwa. Pic source: dok.pribadi

Dalam hal ini, aku berterima kasih kepada tayangan Mata Najwa, edisi Rabu, 19 September kemarin. Topik yang dibawakan Mata Najwa tak pernah mengecewakan, setidaknya bagiku. Dan kali ini, Mata Najwa membahas soal mantan narapidana kasus korupsi, yang masih bisa mengajukan diri sebagai calon legislatif pada pemilu 2019.

Thursday, 16 August 2018

Kalau Jokowi Menang Pada 2019, Akankah PAN Menjadi ‘Bajing Loncat’ Lagi?


Peta kandidat yang bakal bertarung di pilpres 2019, nyata-nyata turut menciptakan realitas politik yang lainnya. Menarik untuk melihat parpol-parpol yang berada di belakang Prabowo Subianto. Mereka adalah Gerindra, PKS, Demokrat, dan… Partai Amanat Nasional (PAN).
Apa yang muncul di benakmu kala mendengar PAN…? Sudah pasti yang pertama muncul adalah sosok Amien Rais. Pria yang sudah sepuh ini, merupakan pendiri PAN. Bahkan melalui PAN, Amien Rais pernah mencicipi kompetisi pilpres. Tepatnya di 2004 silam. Ketika ia menggandeng Siswono Yudhohusodo.
Namun melihat kiprah PAN dalam beberapa tahun terakhir, aku jadi bingung sendiri. Partai ini memilih mendukung Prabowo di pilpres 2014. Bahkan PAN mendapatkan hak istimewa, bila dibandingkan parpol lainnya di Koalisi Merah Putih, kala itu. PAN berhasil menempatkan ketumnya, Hatta Radjasa, sebagai calon wapres.



Thursday, 9 August 2018

Bakal Cawapres Prabowo Tetap UAS, Uno Alahuddin Sandiaga. Betul Nggak…?


Pendaftaran kandidat untuk pemilu presiden 2019 telah dibuka, dan akan berakhir besok, pada 10 Agustus 2018. Namun hingga detik dimana aku menulis artikel ini, KPU masih adem ayem saja. Belum ada satu pun pasangan yang datang untuk mendaftar secara resmi.
Ya, mendaftar pilpres memang tidak bisa seperti tahu bulat yang digoreng dadakan. Semua butuh proses. Semua butuh waktu. Para elit politisi berjibaku kesana kemari, dan saling tawar sana-sini. Tujuannya cuma satu. Agar segala kepentingan dapat diakomodir.
Karena terbentur berbagai peraturan pemilu, sepertinya peserta untuk pilpres tahun depan bakalan sama seperti tahun 2014 lalu. Hanya ada dua pasangan calon. Ya, lagi-lagi cuma ada dua. Kalau nggak si Ini, ya si Itu. Fiuuhh…

Sunday, 29 July 2018

Penangkapan Zainudin Hasan dan Kejamnya Framing Media


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak pernah absen dari sorotan utama. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukannya sering menjadi perbincangan hangat. Sejumlah terduga penerima rasuah selalu menjadi perhatian, tatkala mengenakan rompi berwarna oranye. Rompi KPK yang ‘keramat’ itu.
Tak sedikit figur-figur populer yang akhirnya harus menahan malu. Lantaran harus memakai rompi oranye ketika keluar dari gedung KPK di Jakarta. Bagiku, ada beberapa tokoh menonjol, yang berkesempatan ‘mencicipi’ rompi tersebut.
Sebut saja politisi Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Lalu Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar. Disusul Gubernur Sumatra Utara, Gatot Pujo Nugroho. Dan Gubernur ganteng dari Jambi, Zumi Zola.



Tuesday, 10 July 2018

Gegara Reaksinya Atas TGB, Aku ‘Stalking’ Instagram-nya Mbah Amien Rais. Kamu Mau Follow…?

Suasana menjelang pendaftaran untuk pemilu presiden 2019 sudah mulai menghangat. Semua kubu mulai berjibaku. Lobi-lobi semakin kentara. Aneka perbincangan ke arah deal-deal politik kian bertambah intensitasnya. Ya, semua kekuatan politik nasional sudah harus menyongsong fase pendaftaran bakal capres, yang tinggal menghitung hari.
Detik ini, kabar burung yang kudengar dari linimasa medsos, Presiden Joko Widodo telah mengantongi nama bakal cawapres. Seperti yang kita ketahui bersama, sebagai petahana Pak Jokowi sepertinya tetap bakal ikut serta di pilpres tahun depan.
Pria asal Solo ini boleh woles. Karena sejumlah partai politik sudah bersedia memberikan dukungan kepadanya. Hal ini membuat langkahnya kian mulus untuk menapaki pilpres 2019.

Monday, 11 June 2018

Amien Rais, Rizieq, dan Prabowo Mau Nyapres Semua. Laahh…, Koalisi Keummatan Bubar Sebelum Jadian?


Kupikir hadirnya bulan Ramadan, tensi perpolitikan di tanah air bakal menurun. Semua bakal mengerem syahwat politiknya masing-masing. Sejenak menyetop diri, untuk menghargai bulan yang penuh kemuliaan. Mengisi Ramadan dengan kegiatan yang membangun.
Nampaknya aku salah besar. Bulan Ramadan sama sekali tidak menyurutkan para elit politisi untuk bermanuver. Semuanya sudah mulai tidak tahan. Untuk segera ‘menjual’ diri. Seolah yang ada di pikiran mereka cuma satu. Pemilihan presiden 2019.
Sebenarnya segala manuver ini amatlah wajar. Jauh-jauh hari para elit mulai memasang kuda-kuda. Tujuannya barangkali untuk melancarkan psywar. Untuk mengirim sinyal ‘ancaman’ kepada semua pihak yang dirasa menjadi lawan.

Monday, 4 June 2018

Say Goodbye To ‘Koalisi Merah Putih’. Mari Kita Sambut Koalisi ‘Keummatan’…!


2018 ini memang tahunnya politik. Periode terakhir untuk menyambut puncaknya di tahun depan. Nyaris tak ada elit politisi yang mau ketinggalan. Semuanya sudah mulai beraksi dan melancarkan strategi. Demi mencapai target maksimal di pemilu 2019.
Kabar terbaru, datang dari dedengkot Partai Amanat Nasional (PAN). Belum reda isu terkait ‘keinginan’-nya untuk berjumpa dengan Presiden Jokowi, lelaki tua ini sudah beralih ke aksi lainnya. Tentunya kamu sudah bisa menebak. Dedengkot PAN yang kumaksud adalah Amien Rais.
Ya, bersama ketua umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Amien diketahui menyambangi tanah suci Mekah. Mereka tengah menjalankan ibadah umroh di bulan yang suci ini. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian, adakah agenda khusus yang terselip di rangkaian kegiatan umroh tersebut...?

Thursday, 19 April 2018

Istiqomahnya Pria Tua yang bernama Amien


Salah satu tujuan menulis adalah menyalurkan ide maupun gagasan yang muncul di kepala. Dan ide atau gagasan itu terbit, diantaranya sebagai reaksi atas sebuah stimulus. Nah, stimulus yang kumaksud kali ini, lantaran sudah mulai ‘terkesima’ dengan segala nyanyian yang keluar dari mulut seorang pria tua. Pria tua itu bernama Amien. Amien…, yaa sudahlah.


Okelah. Tak perlu banyak bermain kata-kata. Apalah aku ini. Aku cuma sisa jus sianida yang tak pandai bermain diksi. Pria yang kumaksud adalah Amien Rais. Seorang bapak ‘terhormat’ yang ramai dijuluki sebagai Bapak Reformasi. Bapak reformasi…?! Oh really?