Libur
tahun baru hijriah 27 Juni 2025, jatuh pada hari Jumat yang menyambung dengan
libur Sabtu Minggu. Kesempatan long weekend seperti ini kerap
kumanfaatkan untuk mengeksplorasi tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Kuputuskan
untuk melangkahkan kaki ke Batam, karena ada satu objek yang membuatku
penasaran. Objek itu adalah bekas kamp pengungsi Vietnam.
Letak eks kamp pengungsi Vietnam ini bukan berada di tengah Kota Batam. Melainkan jauh di Pulau Galang. Namun jangan khawatir. Pulau Batam, Rempang dan Galang sudah terhubung satu sama lain. Terdapat sebuah jalan raya yang menyambungkan ketiganya. Jalan ini dinamai Trans Barelang. Trans Barelang terdiri dari jalan raya, dan enam jembatan yang melintang di atas perairan sempit yang memisahkan ketiga pulau tersebut. Untuk perjalanan kali ini, aku menyewa motor dengan tarif 100 ribu selama 24 jam.
Menemukan
Eks Kamp Pengungsi Vietnam
Setelah
hampir sejam aku menapaki jalan Trans Barelang, akhirnya aku sampai di Pulau
Galang. Aku mengecek peta di ponselku. Waduh, sinyal selulerku kembang kempis
di sini. Namun, aku kemudian menemukan bangunan kecil di pinggir jalan
bertuliskan “Halte Kampung Vietnam”. Berarti aku sudah sampai.
Bekas
kamp pengungsi Vietnam ternyata tidak terlihat dari pinggir jalan Trans Barelang.
Dari halte kampung Vietnam itu, aku harus masuk ke sebuah jalan. Kutelusuri
jalan itu, tak sampai lima menit aku melihat gapura bertuliskan “Kawasan Wisata
P. Galang (Ex Camp Vietnam)”. Kubawa motor mendekat ke gapura ini. Kulirik
arloji sudah menunjuk pukul 16.22 wib. Aku sedikit ragu. Masih buka tidak, ya?
![]() |
| Pic source: dok. pribadi |
Di
bawah gapura di sebelah kiri, terdapat sebuah bangunan. Ada semacam loket, di
mana lubangnya masih terbuka. Terlihat ada seorang bapak di dalam loket
tersebut. Aku turun dari motor. Membuka helm dan mendekat ke loket.
“Masih
buka, Pak?” tanyaku kepada bapak di dalam loket.
“Masih,
kami tutup jam 6 (sore),” jawab si bapak.
Ahh,
senangnya. Aku masih punya cukup waktu untuk mengeksplorasi situs kamp
pengungsi Vietnam ini. Apalagi cuaca Pulau Galang sedang cerah. Kutanya perihal
tiket masuk ke kawasan eks kamp Vietnam. Harganya 11 ribu. Kubayar secara tunai
dan si bapak memberiku secarik tiketnya. Kubaca sekilas, ada rinciannya. Tiket
pengunjung satu orang 6 ribu, dan parkir motor 5 ribu.
Aku
dipersilakan mengendarai motor untuk berkeliling kompleks kamp pengungsi
Vietnam. Kesan pertama yang kurasakan kala mulai menjelajahi situs ini adalah
senyap. Jalan di dalam situs kamp Vietnam sudah beraspal. Namun di kanan kiri, kudapati
rerimbunan pohon. Tak ubahnya hutan yang masih perawan. Kuikuti saja petunjuk arah
yang terpasang di sepanjang jalan.
Objek
pertama yang kuhampiri adalah sebuah pagoda. Namanya Pagoda Bukit Teratai. Saat
kuamati, pagoda ini masih aktif digunakan untuk beribadah sampai sekarang. Aku
kemudian beranjak ke objek lainnya. Aku menemukan situs pagoda lainnya, yang
bernama Quan Am Tu. Sayangnya, yang tersisa tinggal bekas gapuranya saja. Dari
situ, aku terus berjalan dan menemukan bangunan kosong yang di depannya
terdapat tulisan “Ex PMI Hospital”.
![]() |
| Pic source: dok. pribadi |
Aku
terus mencari objek-objek yang masih tersisa di situs kamp pengungsi Vietnam
ini. Aku menemukan situs pemakaman. Namanya Nghia Trang Grave. Di pintu masuk
pemakaman, terdapat altar. Di altar ini terdapat sebuah prasasti yang
didedikasikan kepada para pengungsi Vietnam yang tewas di tengah lautan.
Sejarah
Kamp Pengungsi Vietnam
Aku
membaca sebuah buku berjudul Manusia Perahu: Tragedi Kemanusiaan di Pulau
Galang. Dari buku tulisan Isye Ismayawati ini, aku mulai tahu soal kamp
pengungsi Vietnam yang pernah berdiri di Indonesia. Pada 1975, terjadi perang
di Vietnam. Situasi pascaperang yang tidak kondusif, membuat banyak orang
Vietnam memilih kabur dari tanah airnya.
Orang-orang
Vietnam ini menggunakan jalur laut untuk pergi mencari suaka. Mereka berharap,
bisa sampai di negara-negara lain untuk memulai hidup yang baru. Hal inilah
yang membuat para pengungsi Vietnam disebut “manusia perahu”. Mereka
terombang-ambing di Laut Cina Selatan, dengan perahu dan peralatan seadanya.
Banyak di antaranya yang mangkat di tengah lautan.
Dari
sekian banyak manusia perahu ini, ada yang akhirnya terdampar di pulau-pulau
wilayah Indonesia. Dengan pertimbangan kemanusiaan, akhirnya Pemerintah Republik
Indonesia dan badan PBB untuk pengungsi atau United Nations High
Commissioner for Refugees (UNHCR) bekerja sama untuk mengurusi para
pengungsi Vietnam tersebut. Dipilihlah Pulau Galang di perairan Kepulauan Riau,
sebagai tempat tinggal sementara untuk memproses para pengungsi ini.
Dari
informasi yang kubaca, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk tidak memberikan
tempat tinggal permanen kepada para manusia perahu ini. Pulau Galang digunakan
untuk memproses para pengungsi, dan melalui koordinasi dengan UNHCR, mereka
akan diarahkan ke negara ketiga atau repatriasi (kembali ke Vietnam). Kamp
pengungsian Pulau Galang beroperasi sejak pertengahan 1979 sampai penutupannya
pada 8 September 1996.
Museum
Situs Kamp Pengungsi Vietnam
Setelah
berkeliling dan menemukan sisa-sisa bangunan di dalam kompleks eks kamp
pengungsi Vietnam, aku lantas mendapati sebuah bangunan yang masih terawat. Di
depannya terdapat plang bertuliskan “P3V Daerah”. Di depan bangunan juga
terdapat sebuah gapura dengan ornamen khas Bali. Berdasarkan buku Isye
Ismayawati yang kubaca, P3V adalah Panitia Pengelolaan Pengungsi Vietnam.
Sebuah badan khusus yang dibuat Pemerintah Indonesia untuk mengurusi pengungsi
Vietnam. Jadi, bangunan yang ada di hadapanku ini adalah kantor P3V yang ada di
Pulau Galang.
Setelah
kamp pengungsian resmi ditutup pada September 1996, kantor P3V Daerah ini
akhirnya dialihfungsikan menjadi museum. Saat kemarin aku datang, ada dua
petugas yang menjaga museum ini. Sebelum aku memasuki bagian dalam museum, aku
menemukan sebuah motor Suzuki 2 tak yang dipajang di dekat pintu masuk.
Kubayangkan, motor ini menjadi salah satu sarana yang digunakan tatkala kamp
pengungsi Vietnam masih beroperasi puluhan tahun yang lalu.
Aku
masuk ke bagian dalam museum, yang terdiri dari beberapa ruangan yang dibatasi
sekat-sekat. Museum memajang berbagai foto yang mengabadikan peristiwa
kemanusiaan yang melanda para manusia perahu, khususnya yang berasal dari
Vietnam. Dimulai saat terdampar, hingga menetap sementara di wilayah Indonesia.
![]() |
| Pic source: dok. pribadi |
Mengamati
foto-foto ini, aku jadi membayangkan, bagaimana situasi di Pulau Galang saat
itu. Pulau ini dipilih untuk dijadikan konsentrasi penempatan pengungsi dari
Vietnam. Untuk alasan kemanusiaan, Pemerintah Indonesia menyediakan tempat dan
sarana prasarana untuk menunjang kehidupan para manusia perahu. Operasional
kamp pengungsi Vietnam berada di bawah komando Panitia Pengelolaan Pengungsi
Vietnam (P3V). Mayjen Benny Moerdani kala itu ditunjuk sebagai Ketua P3V Pusat.
Sementara
untuk teknis di lapangan, terdapat P3V Daerah yang dipimpin oleh Panglima
Daerah Angkatan Laut (Pangdaeral) II. Laksda Kunto Wibisono selaku Pangdaeral
II saat itu, bertugas menjadi Ketua P3V Daerah yang pertama. Dalam pengelolaan
kamp pengungsi Vietnam, P3V bekerja sama dengan berbagai lembaga. Seperti
Palang Merah Indonesia (PMI), yang mendirikan sebuah rumah sakit sebagai
fasilitas kesehatan yang disediakan untuk para pengungsi.
Ada
pula peran UNHCR dalam pemrosesan para pengungsi Vietnam di Pulau Galang. UNHCR
tidak hanya mengirim pegawainya untuk mendata administrasi para pengungsi.
Mereka juga mengirim guru-guru untuk menjalankan tugas kemanusiaan, khususnya
yang ditujukan untuk pengungsi anak-anak.
Museum
juga menampilkan sejumlah barang yang pernah digunakan para pengungsi. Di
antaranya peralatan memasak, peralatan makan, mesin tik, radio, pemutar kaset,
telepon, hingga sejumlah patung berukuran mini sebagai sarana beribadah. Ada
pula buku, kerajinan tangan, dan berbagai lukisan yang dibuat oleh para
pengungsi, di tengah-tengah penantian mereka untuk disalurkan ke negara ketiga.
Aku
menemukan sebuah media, yang menunjukkan negara-negara mana para pengungsi
Vietnam disalurkan. Di antaranya Filipina, Jepang, Italia, Perancis, Inggris,
Kanada, Amerika Serikat, Brazil, Argentina dan Australia.
![]() |
| Pic source: dok. pribadi |
Bagiku,
keberadaan museum situs kamp pengungsi Vietnam ini amatlah berharga. Menjadi
saksi bisu tragedi kemanusiaan yang dialami orang-orang Vietnam. Menjadi bukti
otentik, bahwa bangsa Indonesia masih memiliki kepedulian terhadap para
pengungsi tersebut. Kepedulian yang menembus sekat-sekat suku bangsa, ras,
agama dan budaya.
Ya,
situs kamp pengungsi Vietnam adalah sisi lain dari Batam. Sebuah objek wisata
yang mempunyai nilai dan atmosfer tersendiri. Semoga Badan Pengusahaan (BP)
Batam dan pemda setempat terus memelihara situs eks kamp pengungsi Vietnam ini.
![]() |
| Pic source: dok. pribadi |
*Artikel ini sudah tayang di telusuri.id





No comments:
Post a Comment