Monday, 10 August 2026

Kepala Perpustakaan Nasional Jalin Dialog dengan Relima dan Forum TBM Sumatera Barat

Dalam lawatan kerja ke Bukittinggi, Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz menyediakan waktu khusus untuk para relawan literasi. Kesempatan ini dimanifestasikan dalam sebuah dialog, yang mengundang pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Relawan Literasi Masyarakat (relima) di kawasan Sumatera Barat. Dialog berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, bertempat di Ruang Seminar Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Selaku tuan rumah, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Leksi Hedrifa juga turut hadir.

Kegiatan dialog dihadiri puluhan pengelola TBM, serta para relima yang tersebar di kabupaten dan kota se-Sumatera Barat. Dialog dikemas secara santai, untuk saling bertukar pikiran mengenai isu-isu literasi yang dialami para relawan di lapangan. Jumaidi selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, berkesempatan membuka dialog. Jumaidi menyampaikan apresiasi kepada Perpustakaan Nasional, atas program Bahan Bacaan Bermutu (B3) yang disebarkan ke seluruh negeri, termasuk ke Sumatera Barat. Program ini berupa pemberian seribu buku untuk perpustakaan desa atau kelurahan.

Diskusi berjalan mengalir, di mana Kepala Perpustakaan Nasional langsung memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan uneg-unegnya. Peserta pertama yang menyampaikan keluh kesahnya adalah Sepriyadi. Sepriyadi merupakan relima yang berbasis di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Ia berujar, salah satu kendala yang ditemukan di lapangan adalah kurang termanfaatkannya buku B3 yang ada di desa atau nagari. Hal ini mengusik pikirannya. Sebagai relima, apakah dirinya bisa berperan lebih untuk mengoptimalkan buku-buku tersebut.

Selain kendala mangkraknya buku-buku B3 di perpustakaan desa atau nagari, ada masukan mengenai jenis buku yang hendak disebarkan kepada masyarakat tersebut. Hal ini disampaikan Hernan Pratama, relima yang bergerak di Kabupaten Agam. Dari pengalaman di lapangan, buku-buku mengenai sastra dan cerita fiksi lebih menarik perhatian anak-anak di nagari.

Kesempatan bersua langsung dengan Kepala Perpustakaan Nasional, dimanfaatkan betul oleh Rahmi, relima dari Kabupaten 50 Kota. Pada momen ini, dirinya merasa terharu lantaran bangga menjadi seorang relawan literasi masyarakat. Baginya, menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri kala berinteraksi dengan anak-anak. Zaman sekarang, perjuangannya untuk membuat anak-anak menyukai membaca dirasakannya cukup berat, karena harus berhadapan dengan gawai yang lebih menarik bagi anak-anak. Tetapi hal ini tak menyurutkan semangatnya. Ia malah tertantang untuk memperkenalkan buku dengan read aloud atau kegiatan menarik lainnya.

Pada dialog ini, Hasan Achari Harahap selaku Ketua Forum TBM Sumatera Barat menyampaikan terima kasih kepada Perpustakaan Nasional atas program pemberian B3 kepada perpustakaan desa dan TBM. Ia menggarisbawahi, bagaimana buku-buku ini bisa digunakan secara optimal oleh para pemustaka di daerahnya masing-masing. Hal senada juga disampaikan Denni Meilizon. Ketua Forum TBM Pasaman Barat ini menuturkan, salah satu solusi supaya buku-buku B3 bisa termanfaatkan secara maksimal adalah dengan menyalurkannya kepada perpustakaan di sekolah-sekolah yang ada di nagari tersebut.

 

Apresiasi Kepala Perpustakaan Nasional untuk Segenap Relawan dan TBM

Setelah mendengar keluh kesah dan masukan dari segenap relima dan pengelola TBM, Kepala Perpustakaan Nasional menyampaikan apresiasi yang tinggi. Menurut Prof. E. Aminudin Aziz, para relawan literasi ini telah bekerja di atas normal. Mereka telah bergerak dan bekerja karena mengikuti panggilan nurani. Panggilan karena merasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan literasi masyarakat, khususnya di daerahnya masing-masing.

“Urusan hasil itu bukan urusan kita. Itu adalah urusan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang menjadi urusan kita adalah, bagaimana kita melakukan sesuatu ikhtiar yang terbaik dulu,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional memberikan semangat kepada para peserta dialog.

Prof. E. Aminudin Aziz menuturkan, di tengah fase efisiensi anggaran saat ini, Perpustakaan Nasional direncanakan memperoleh tanbahan anggaran pada tahun 2027. Tambahan anggaran ini dikomitmenkan untuk alokasi bantuan buku ke lokus-lokus yang membutuhkan. Di antaranya ke TBM dan perpustakaan-perpustakaan desa atau kelurahan.

Pic source: dok. pribadi

Kepala Perpustakaan Nasional juga menegaskan, bahwa para pengelola TBM dan relima itu sama saja. Sama-sama bergerak untuk melakukan praktik baik di bidang literasi untuk masyarakat. Jadi tidak ada dikotomi relima dengan pengurus TBM. Ia pun berharap, jumlah relima bisa bertambah. Dari total nasional berjumlah 360, menjadi 500 relima di tahun 2027.

Kepala Perpustakaan Nasional menitikberatkan kepada fungsi relima sebagai mediator dan katalisator yang memang memahami kondisi di lapangan. Para relawan ini bisa bergerak secara smooth, untuk melakukan intervensi dalam pendayagunaan buku-buku B3 yang telah disalurkan ke perpustakaan desa atau kelurahan. Beliau mencontohkan di Sumatera Barat. Apabila nagari belum bisa mengelola B3 dengan optimal, maka bisa dipinjamkan ke TBM-TBM supaya lebih terasa manfaatnya.

Pic source: dok. pribadi

Pic source: dok. pribadi

Pic source: dok. pribadi

No comments:

Post a Comment