Saturday, 14 July 2018

Pasca Bebas Nanti, Mungkinkah Ahok Bisa Meneruskan Karier Politiknya…?


Ya, tetiba pertanyaan di atas terlontar di benakku. Seusai bebas nanti, apakah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok masih bisa meneruskan karier politiknya? Apakah kemungkinan itu masih tersedia…?
Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Pic source: news.detik.com
 
Pertanyaan mengenai masa depan Ahok itu, muncul karena dipicu sejumlah hal. Beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah berita di media online. Berita itu mengangkat seseorang yang bernama Sam Aliano. Pun, pria ini sempat diundang dan hadir di episode Mata Najwa, pada 4 Juli yang lalu.
Setelah aku searching sana-sini, ternyata Sam Aliano ini seorang pengusaha. Wajahnya memang sama sekali tidak terkesan Indonesia. Karena ia katanya mempunyai darah Turki. Sehingga raut mukanya terkesan Eropa, terlebih hidungnya yang mancung. Huuft, bikin iri.

Tuesday, 10 July 2018

Gegara Reaksinya Atas TGB, Aku ‘Stalking’ Instagram-nya Mbah Amien Rais. Kamu Mau Follow…?

Suasana menjelang pendaftaran untuk pemilu presiden 2019 sudah mulai menghangat. Semua kubu mulai berjibaku. Lobi-lobi semakin kentara. Aneka perbincangan ke arah deal-deal politik kian bertambah intensitasnya. Ya, semua kekuatan politik nasional sudah harus menyongsong fase pendaftaran bakal capres, yang tinggal menghitung hari.
Detik ini, kabar burung yang kudengar dari linimasa medsos, Presiden Joko Widodo telah mengantongi nama bakal cawapres. Seperti yang kita ketahui bersama, sebagai petahana Pak Jokowi sepertinya tetap bakal ikut serta di pilpres tahun depan.
Pria asal Solo ini boleh woles. Karena sejumlah partai politik sudah bersedia memberikan dukungan kepadanya. Hal ini membuat langkahnya kian mulus untuk menapaki pilpres 2019.

Sunday, 8 July 2018

Dear Demokrat, Emangnya Cuma AHY yang Layak Ikut Pilpres? Ibas atau Kader Lainnya Gimana…?


Menurut jadwal, bulan Agustus sudah ada pendaftaran untuk peserta pemilu presiden 2019. Kalau tidak ada perubahan peraturan, maka presidential threshold tetap berlaku. Hal ini membuat setiap partai politik harus melancarkan lobi-lobi. Agar deal-deal politik bisa terwujud.
Masing-masing kubu yang hendak bertarung di pilpres, sudah mulai bermain mata. Ketika melirik ke sebelah kanan tidak membuahkan hasil, maka mata langsung melirik ke sebelah kiri. Siapa tahu. Dari pandangan sebelah kiri, ada gayung yang bersambut. Tidak bertepuk sebelah tangan.
Anggap saja, kubu yang muntup-muntup hendak terjun ke arena pilpres adalah sama seperti kelompok yang meramaikan pilkada DKI Jakarta di 2017. Kala itu, ada tiga kelompok yang akhirnya mengajukan jagoannya untuk merebut kursi DKI 1 dan DKI 2.

Thursday, 5 July 2018

Benarkah Tuan Guru Bajang NTB Mendukung Jokowi di Pilpres? Wah, Semua Akan ‘Jokowi’ Pada Waktunya!


Mata Najwa edisi Rabu, 4 Juli kemarin, membahas satu isu yang bagiku amatlah menarik. Tak cuma menarik. Namun krusial. Bertajuk Pasar Bebas Capres. Dari judulnya, kamu sudah bisa menebak seperti apa materi bahasan yang ditampilkan. Yapp, musim copras-capres sudah dimulai.
Hal ini tidak terlepas dari pilkada serentak yang baru saja usai. Hasil dari pilkada di sejumlah daerah, mau tak mau menjadi data yang bisa digunakan oleh segenap parpol, sebagai persiapan menuju pemilu 2019.
Ya, pemilu 2019 sudah di depan mata. Tidak hanya pemilu untuk memilih anggota legislatif yang baru. Namun juga pemilu yang lebih ‘seksi’. Lebih menarik di mata kita semua sebagai rakyat Indonesia. Yakni pemilihan presiden untuk masa bakti 2019-2024.

Tuesday, 3 July 2018

Demokrat Akan Usung JK-Agus Yudhoyono. Ini Bakal Serius atau Cuma Gimmick…?


Kontestasi pilkada serentak 2018 telah kita lalui bersama. Proses perhitungan suara untuk masing-masing daerah sedang mendekati final. Banyak elit politisi yang menganggap hasil pilkada ini sebagai gambaran awal. Gambaran peta politik menjelang pilpres 2019.
Agus Yudhoyono. Pic source: wow.tribunnews.com

Kupikir tidak ada yang salah dengan anggapan tersebut. Meski sebenarnya, kemenangan seorang calon maupun parpol tertentu di sebuah daerah atau provinsi, tidak sepenuhnya menjamin bahwa di pemilu tingkat nasional, bakal menelurkan hasil serupa.
Hasil quick count pilkada di sejumlah provinsi, menjadi dasar bagi kalangan elit parpol untuk mulai memasang kuda-kuda. Hasil pilkada setidaknya bisa digunakan untuk mengukur. Seberapa kuat posisi sebuah parpol di suatu daerah atau provinsi.

Monday, 2 July 2018

Menggerutu Lantaran Pertamax Naik, Padahal Sehari-hari ‘Minum’-nya Premium. Kamu Butuh Teman Curhat?


Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018, baru saja kita lalui. Saat ini, proses penghitungan manual masih berlangsung. Sebagian diantara kita pasti sedang harap-harap cemas. Siapakah sosok walikota, atau bupati, atau gubernur, yang bakal menjadi pelayan di daerah kita masing-masing.
Pilkada yang berlangsung pada 27 Juni kemarin, beberapa diantaranya dihiasi oleh quick count yang dilakukan sejumlah lembaga survei. Hasil quick count-nya pun telah dirilis. Nyaris tak lama seusai coblosan berakhir di setiap tempat pemungutan suara.
Dari hasil hitung cepat tersebut, ada pihak yang menyambutnya gembira. Ada pula pihak yang meringis, pun menangis. Seperti kontestasi pada umumnya. Selalu ada yang menang. Dan yang lainnya harus kalah. Dalam kompetisi, tidak pernah ada dua pemenang. Juara hanyalah satu.