Showing posts with label mudik. Show all posts
Showing posts with label mudik. Show all posts

Wednesday, 14 May 2025

Kereta Brawijaya dan Salah Pilih Kursi Jomblo, Hadeehh

Kereta api rasanya tidak terpisahkan dari kehidupanku. Barangkali kalimat tersebut terdengar berlebihan. Namun, aku memang sungguh familiar dengan moda transportasi yang satu ini. Sejak masih duduk di bangku SD, aku sudah terbiasa menggunakan sepur (kereta api, Bahasa Jawa) yang dikelola PT. Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut. 

Semasa kecil, kedua orangtuaku kerap membawaku bepergian menggunakan kereta api. Kami berdomisili di Malang, dan keluarga besar kedua orangtuaku mayoritas tinggal di Blitar. Dengan kereta api, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke Blitar. Entah itu pada momen mudik Idulfitri, atau saat aku dan kakakku sedang liburan sekolah.

Penataran, adalah rangkaian kereta yang membawa kami dari Malang ke Blitar, maupun sebaliknya. Oh ya, selain akrab dengan kereta Penataran, pada 2005 aku akhirnya merasakan kereta api jarak jauh untuk pertama kalinya. Kereta yang kunaiki tersebut adalah Gajayana. Dari Malang, aku dan ibuku mengunjungi saudara di Jakarta. Wuahh … pengalaman itu masih membekas di benakku.

Tuesday, 5 May 2020

Ramadan Kali Ini Mengingatkanku dengan Sosok Gus Dur



Ramadan memang bulan yang istimewa. Oleh sebab itu, amatlah lazim jika setiap Muslim ingin bertemu dengan bulan Ramadan setiap tahunnya. Ada sejumlah keutamaan, yang hanya terdapat didalam Ramadan, dan tidak tersedia di bulan-bulan lainnya.
Alhamdulillah. Doa yang kupanjatkan di tahun lalu, dikabulkan oleh Allah. Di penghujung Ramadan tahun lalu, aku bermunajat. Dan barangkali kalian pun juga memanjatkan permohonan yang sama. Semoga masih tersedia umur, dan bertemu dengan Ramadan lagi di tahun depan.
Dan…, detik ini aku sedang mengembuskan napas di bulan suci Ramadan. Syukur alhamdulillah. Tahun ini aku masih beruntung. Karena masih berkesempatan berjumpa dengan Ramadan. Marhaban yaa Ramadan…

Monday, 21 October 2019

‘Pulang’ Sejenak ke Jawa


Patut kuakui, saat ini aku termasuk kedalam golongan orang yang merantau. Orang-orang yang sedang menjalani hidup, jauh dari ‘rumah’. Bagiku, rumah adalah sebuah tempat, dimana orangtuaku tinggal. Rumah adalah tempat, dimana aku tumbuh besar. Dan bagiku, rumah yang kumaksud ini berada di tanah Jawa. Di Jawa Timur. Tepatnya di Malang.
Haahh…, anggap saja, tulisan ini menjadi representasi, dari sebuah rasa yang sedang membuncah didalam diriku. Bahwa aku sedang rindu. Kangen. Ya, aku sedang merasa homesick. Aku sedang kangen rumah…
Jika kamu membaca tulisanku ini, barangkali kamu akan mengataiku cengeng. Aku ini lemah. Dan segala umpatan lainnya. Tapi, ya… patut kuakui. Saat ini aku memang sedang lemah. Aku sedang berada di titik, dimana aku sedang rindu rumah. Aku ingin pulang. Aku ingin balik ke kampungku. Namun, aku tak bisa serta-merta memenuhi hasratku ini.

Saturday, 23 June 2018

Amien Rais Bilang Partai Setan, Habiburokhman Ngomong Mudik Neraka. Selanjutnya Apa Lagi Bos…?


Tak ada yang lebih menyenangkan, selain mendengarkan setiap pernyataan dari para elit politisi. Khususnya dari para elit yang berada di kelompok kontrapenguasa, alias oposisi. Ya, Indonesia yang menganut paham demokrasi, memungkinkan adanya kelompok politik yang berada di luar pemerintahan.
Kelompok oposisi inilah, yang biasanya bertugas sebagai penyeimbang dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Mereka bisa melemparkan berbagai kritik, apabila pemerintah dinilai layak untuk menerimanya. Pun, pihak oposisi juga bisa menyumbang masukan untuk jalannya pemerintahan. Meski mereka tidak termasuk ke dalam lingkaran kekuasaan.
Adanya kelompok oposisi, telah melengkapi kehidupan demokrasi di tanah air. Dengan kehadiran para oposan, harapannya pemerintah tidak berjalan secara absolut. Oposisi menjadi pihak yang secara tradisional, merupakan ‘lawan’ dari pemerintah. Menjadi pihak yang dapat lebih leluasa untuk melontarkan kritik dan saran kepada pemerintah.