Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Monday, 21 October 2019

‘Pulang’ Sejenak ke Jawa


Patut kuakui, saat ini aku termasuk kedalam golongan orang yang merantau. Orang-orang yang sedang menjalani hidup, jauh dari ‘rumah’. Bagiku, rumah adalah sebuah tempat, dimana orangtuaku tinggal. Rumah adalah tempat, dimana aku tumbuh besar. Dan bagiku, rumah yang kumaksud ini berada di tanah Jawa. Di Jawa Timur. Tepatnya di Malang.
Haahh…, anggap saja, tulisan ini menjadi representasi, dari sebuah rasa yang sedang membuncah didalam diriku. Bahwa aku sedang rindu. Kangen. Ya, aku sedang merasa homesick. Aku sedang kangen rumah…
Jika kamu membaca tulisanku ini, barangkali kamu akan mengataiku cengeng. Aku ini lemah. Dan segala umpatan lainnya. Tapi, ya… patut kuakui. Saat ini aku memang sedang lemah. Aku sedang berada di titik, dimana aku sedang rindu rumah. Aku ingin pulang. Aku ingin balik ke kampungku. Namun, aku tak bisa serta-merta memenuhi hasratku ini.

Friday, 10 April 2015

Kisah-kisah Seorang Perempuan (introducing to Kumpulan Cerpen Peluru)


Aku, kamu, dan kalian. Kita semua pasti lahir dari seorang perempuan. Muncul dari rahim seorang wanita. Wanita yang kemudian kita sebut sebagai ibu. Takkan ada siapapun yang mampu menggantikan sosok seorang ibu. Betul ‘kan?

Kuakui, ibu adalah seseorang yang paling banyak memberiku cerita. Setiap saat, beliau selalu menampilkan kisah tiada henti. Karena itulah, bersyukurlah buat kita semua, yang masih memiliki kesempatan untuk bersama dengan ibu masing-masing. Karena di sekeliling kita, ada banyak rekan atau tetangga, yang tak lagi seberuntung kita. Mereka, tak lagi bisa bermanja-manja ria bersama ibunya. Mereka, tak lagi dapat mendengar omelan ibu, yang kadang memang mampu membuat kuping panas. Tetapi kuping panas itu, tak ada artinya lagi jika ibu sudah tak berada disisi kita.

“Langit perlahan gelap. Segelap diriku yang dirundung duka. Belum lama, Ibu telah berpulang. Masih di pelupuk mata, tatkala aku ikut menggali tanah untuk menutup jasad Ibu di peristirahatannya yang terakhir. Masih terasa di tanganku, bunga-bunga yang kutaburkan di atas pusaranya. Dan masih jelas tertanam di benakku, nama Ibu yang tertulis tegas di nisan itu. BERLIAN.”

Cuplikan di atas adalah potongan dari cerpen berjudul “Berlian”. Satu dari 11 cerpen yang terangkum di dalam buku terbitan Penerbit Ellunar, yang bertajuk PELURU. Berikut adalah beberapa cuplikan dari cerpen lainnya:

Monday, 31 December 2012

Habibie & Ainun: Antara Cinta, Spirit, dan Pengabdian untuk Indonesia (Catatan Akhir Tahun Film Indonesia-Bag.2-Habis)

Film Indonesia keempat yang saya tonton di bioskop adalah Habibie-Ainun. Dari awal, saya sangat tertarik untuk menonton film ini. Dari awal saya sudah menjelaskan. Bahwa saya selalu tertarik melihat film yang menceritakan tokoh-tokoh Indonesia. Kali ini tokoh tersebut bukan tokoh sembarangan. Dia adalah B. J. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia.
Habibie-Ainun diadaptasi dari buku berjudul serupa tulisan Pak Habibie sendiri. Buku tersebut adalah buku yang ditulisnya untuk mengenang mendiang istrinya. Ibu negara Hasri Ainun Habibie. Saya belum sempat membaca bukunya. Maka dari itulah, saya harus menonton filmnya di bioskop. Penasaran.
Karena mengangkat kisah seorang Habibie yang pernah menjabat sebagai presiden, tentu film ini akan menyuguhkan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan politik. Khususnya mengenai masa reformasi, masa dimana Habibie naik menjadi orang nomor satu di Indonesia.