Showing posts with label malang. Show all posts
Showing posts with label malang. Show all posts

Saturday, 30 August 2025

Caraku Mengurangi Rasa Kangen Kepada Ibuk

Dua pekan yang lalu, seratus hari sudah, Ibuku berpulang. Kau tahu, kadang aku masih suka diam sejenak. Menerawang, dan bertanya dalam hati. Benarkah ibuk telah tiada? Ya, sepertinya memang benar.

Kutengok ponselku. Kubuka whatsapp. Aku memasang nomer Ibuk sebagai salah satu kontak yang ku-pin. Dan, chat Ibuk tak pernah bergerak lagi. Buk, aku kangen. Saat Ibuk masih ada, beliau adalah orang yang paling getol menghampiri whatsapp-ku. Bertanya sudah sarapankah? Siang makan apa? Sudah pulang kantorkah? Malam lauk apa? Hujan di Bukittinggi?

Aku harus mulai membiasakan diri. Bahwa chat-chat itu takkan pernah ada lagi. Nomer whatsapp Ibuk masih tetap ku-pin. Kadang jika ada orang yang menyakitiku, kubuka chat Ibuk. Kubaca-baca kalimat-kalimat sederhana dari beliau, yang bisa menguatkanku. Ahh Ibuk, aku kangen.

Friday, 22 August 2025

Masjid Tiban, Keunikan yang Membuat Turen Tersohor

Turen merupakan sebuah kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Barangkali Turen terasa biasa saja, selayaknya kecamatan lainnya yang terdapat di Malang Raya. Bahkan, Turen mungkin kalah pamor dengan Kepanjen, kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang.

Namun, Turen mempunyai “takdir”-nya sendiri. Ada sebuah objek yang membuat Turen layak dimasukkan ke dalam bucket list tempat yang perlu kamu kunjungi, kala berwisata ke Malang Raya. Malang Raya adalah suatu kawasan yang terdiri dari tiga daerah tingkat dua. Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Kembali ke Turen. Jika Kepanjen memiliki Stadion Kanjuruhan yang menjadi homebase kesebelasan Arema, maka Turen mempunyai sebuah masjid. Masjid ini bukan sembarang masjid. Masjid ini dikenal dengan istilah “tiban”.

Wednesday, 14 May 2025

Kereta Brawijaya dan Salah Pilih Kursi Jomblo, Hadeehh

Kereta api rasanya tidak terpisahkan dari kehidupanku. Barangkali kalimat tersebut terdengar berlebihan. Namun, aku memang sungguh familiar dengan moda transportasi yang satu ini. Sejak masih duduk di bangku SD, aku sudah terbiasa menggunakan sepur (kereta api, Bahasa Jawa) yang dikelola PT. Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut. 

Semasa kecil, kedua orangtuaku kerap membawaku bepergian menggunakan kereta api. Kami berdomisili di Malang, dan keluarga besar kedua orangtuaku mayoritas tinggal di Blitar. Dengan kereta api, kami sekeluarga melakukan perjalanan ke Blitar. Entah itu pada momen mudik Idulfitri, atau saat aku dan kakakku sedang liburan sekolah.

Penataran, adalah rangkaian kereta yang membawa kami dari Malang ke Blitar, maupun sebaliknya. Oh ya, selain akrab dengan kereta Penataran, pada 2005 aku akhirnya merasakan kereta api jarak jauh untuk pertama kalinya. Kereta yang kunaiki tersebut adalah Gajayana. Dari Malang, aku dan ibuku mengunjungi saudara di Jakarta. Wuahh … pengalaman itu masih membekas di benakku.

Wednesday, 14 January 2015

Antara Aku, Turbulensi, dan QZ8501

Lebih dari dua minggu sudah, tragedi Airasia terjadi. Pesawat yang harusnya mengantarkan penumpang dari Surabaya ke Singapura, ternyata mendarat di tempat yang tak seharusnya. Kenyataan pahit pun harus ditelan bulat-bulat. Tatkala pesawat yang mestinya mendarat mulus di bandara Changi itu, malah naas di lautan Selat Karimata.

Sejak akhir tahun 2014, media bertubi-tubi mengulas kecelakaan yang menimpa pesawat Airasia bernomer QZ8501. Kode ini kemudian menjadi begitu populer. Mengalahkan kode MH370 dan MH17. Dua kode penerbangan yang dimiliki dua pesawat naas milik Malaysia Airlines.

Berita terbaru, tim gabungan yang dipimpin Basarnas, berhasil mengangkat bagian ekor dari pesawat keluaran Airbus itu. Bagian ekor yang aku dengar di media, beratnya sampai 10 ton sendiri. Malah, komponen penting yang berupa blackbox, juga telah berhasil ditemukan dan diamankan.