Showing posts with label kontraproduktif. Show all posts
Showing posts with label kontraproduktif. Show all posts

Sunday, 14 October 2018

Soal Harga Bensin, Pak Jokowi Itu ‘Maju Kena Mundur Kena’. Betul Nggak…?


Ngomongin Pak Jokowi, yang baru saja viral dan ramai dibicarakan adalah pidatonya pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, di Bali. Pidato itu menyebut-nyebut Game of Thrones.
Kali ini aku tidak akan membahas perihal Game of Thrones. Apalagi soal analoginya yang digunakan untuk menggambarkan kondisi perekonomian dunia saat ini. Otakku belum nyampe, hahaa.
Namun yang jelas, pidato Pak Jokowi yang nyerempet-nyerempet serial Game of Thrones itu, tentu menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang terpukau. Ada pula yang tidak begitu paham. Ada yang bangga dan suka. Ehh…, ada juga yang tidak suka.

Friday, 24 August 2018

Perlukah Merasa Kesal dengan Pawai Anak TK yang Menenteng ‘Bedil’ di Probolinggo…?


Selepas perayaan kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus pekan lalu, kita semua disibukkan dengan euforia upacara pembukaan pesta olahraga terbesar di Asia. Ya, pada 18 Agustus malam, telah dilangsungkan opening ceremony Asian Games 2018. Dan Indonesia memperoleh kehormatan untuk menjadi tuan rumah di perhelatan ke-18 tahun ini.
Semua berdecak kagum, dengan sajian upacara pembukaan yang digeber di GBK Jakarta. Wishnutama dan tim, telah berhasil menghadirkan sebuah pertunjukan kolosal yang sungguh luar biasa.
Opening ceremony Asian Games kemudian menjadi pergunjingan nasional. Tidak hanya lantaran keindahannya yang memanjakan mata. Namun turut diseret ke ranah politik. Bagaimana tidak…? Di awal pertunjukan upacara pembukaan, ditampilkan sosok Presiden Joko Widodo yang beratraksi.

Wednesday, 5 November 2014

Sebenarnya Aku Diundang Nggak Sih?

Tahun dalam penanggalan hijriyah baru saja berganti. Dari tahun 1435 ke 1436. Belum ada sepuluh hari, kita menapakkan kaki di bulan muharram. Jadi, bulan sebelumnya adalah zulhijah yang masih masuk kedalam tahun 1435 hijriyah. Zulhijah. Bulannya orang yang berhaji. Bulannya Idul Adha. Idul Qurban. Kalau kata orang Jawa, zulhijah adalah bulan besar. Bulan yang besar.

Entah bagaimana makna besarnya. Yang jelas, diistilahkan bulan besar, barangkali karena ibadah haji dilakukan didalam bulan ini. Termasuk peringatan Idul Qurban. Mengenang peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bisa jadi, dikatakan besar karena pasti ada perayaan berupa pembagian daging hewan kurban. Khususnya kepada kaum kurang mampu. Sehingga bagi kaum ini, bulan zulhijah adalah besar. Karena mereka akan memperoleh daging kurban. Bahan makanan yang mungkin amat jarang mereka konsumsi sehari-hari.

Bulan zulhijah tak hanya diwarnai ritual haji dan penyembelihan hewan kurban. Tetapi juga dianggap waktu yang baik untuk mengadakan acara besar. Acara besar disini adalah pernikahan. Aku tak begitu memahami bagaimana sejarah dan pengetahuannya. Yang jelas, bagi orang jawa, menyelenggarakan pernikahan di bulan zulhijah atau besar, adalah pilihan yang sangat tepat.

Wednesday, 20 April 2011

Perjalanan dan Ikhtiar (Part.3-Tamat)

Aku bagai melayang di angkasa. Bertebaran mobil-mobil mewah disana-sini. Banyak orang memakai setelan jas rapi dan kinclong. Begitu juga dengan wanitanya, blouse dan rok yang aduhai. Pokoknya….. khas eksekutif muda lah!

Kucoba membangun kepercayaan diri. Kucoba berjalan seperti biasa. Walau aku tak bisa membohongi diri sendiri, bahwa aku amat excited dengan situasi yang sedang kualami. Kudatangi receptionist dan mengutarakan kedatanganku. Yakni interview bca finance di lantai 7.

“KTP-nya…?”

Ekspresi datar ditunjukkan si mbak resepsionis kepadaku seraya meminta ktp. Ok. Kuberikan ktp-ku dan aku diberi ID yang bertuliskan tamu atau guest.

Tuesday, 22 March 2011

Perjalanan dan Ikhtiar (Part.2 - Welcome to Jakarta!!!!!)

Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Dan orang yang bersangkutan, wajib mempertanggungjawabkan pilihannya itu. Dari hal yang sifatnya rumit, hingga hal yang remeh-temeh. Salah satunya ini. Setiap orang berhak memilih acara kesukaannya. Televisi telah menyediakan puluhan channel tv untuk alternatif setiap pasang mata yang hendak menonton.

Begitu juga denganku. Berhubung aku belum mempunyai tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan. Maka akan banyak kutemukan waktu luang di sepanjang hari-hariku. Lalu, jadilah aku menonton tv di sore dan malam hari. Saat bosan menonton berita yang isinya cuma bencana dan lemahnya sikap penguasa, kupindah channel ke acara hiburan.

Salah satu hiburan yang tak bisa dihindari, tentu saja drama seri alias sinetron. Ada beberapa stasiun tv yang dari jam 5 sore, hingga jam 10 malam, slot acaranya diisi sinetron. Sinetron yang dihiasi wajah-wajah selebriti yang sedang jaya-jayanya di jagat hiburan.

Thursday, 17 March 2011

Perjalanan dan Ikhtiar (Part.1)

Alhamdulillah. Tanganku masih tergerak untuk menekan keyboard yang tertera huruf-huruf. Rasanya, sudah lama aku tak melakukan ritual ini. Ritual yang sungguh asyik harusnya. Yakni, memfokuskan diri untuk menulis. Ya, sudah lama memang. Setidaknya untuk 2011 ini. Mulai awal tahun hingga detik ini pun, aku masih disibukkan dalam kaitan upaya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari kerja.
Namun, rupanya aku tak boleh melupakan waktu untuk menulis. Saat ini, aku harus memaksa diri, tenggelam diantara belantara ingatan. Dan mengabadikan segala pengalaman yang bisa diabadikan. Tujuannya cuma satu. Kelak, aku berharap, agar anakku tahu, kalau ayahnya bisa meninggalkan sesuatu, yang nilainya lebih dari sekadar harta. Semoga.
Perjalanan hidup memang misteri. Tak ada yang tahu, apa yang hendak terjadi selanjutnya. Ini, adalah hak prerogatif dari Sang Maha Memutuskan. Tiba-tiba, aku teringat dengan kisah legenda, sekaligus fenomenal. Dongeng antah-berantah, dengan tokoh utama bernama Fahri. Tentu kau sudah bisa menebak. Kisah ayat-ayat cinta, karangan Habiburrahman El Shirazy.
Fahri dicintai setidaknya oleh 4 wanita. Namun, ia harus memilih. Dan Fahri memilih 2 diantaranya. Bagiku, dongeng Fahri ini sangat membekas. Bukan karena “keistimewaan”-nya, sehingga dikelilingi wanita-wanita cantik dan kaya. Tapi perjalanan hidupnya di negeri bekas Husni Mobarak, Mesir.
Begitu cepat nasib kita berubah.

Thursday, 3 June 2010

Antara Mavi Marmara, Teroris, dan Aku

Rasanya gatal sekali jari-jariku ini. Sehingga menuntunku untuk kembali, nulisssss!!!!!! Kali ini adalah murni opiniku. Pendapatku. Seputar sebuah peristiwa aktual yang bagiku sangat mengoyak sisi dramatis dalam diriku. Mungkin peristiwa ini sedang menjadi bahan pergunjingan di seantero jagat raya. Atau mungkin, hanya media massa saja yang membesar-besarkannya.
Terlepas dari peran media, nampaknya misi kemanusiaan yang bernama Flotilla Free for Gaza, menjadi sesuatu yang cukup menarik perhatian saat ini. Ehhmmm... atau jangan-jangan, sebenarnya tragedi yang menimpa sebuah kapal laut yang bernama Mavi Marmara ini, cuma ramai di media??? Sementara banyak orang sebenarnya tak peduli, dengan apa yang telah terjadi di lepas pantai Gaza itu.
Entahlah. Yang pasti segala macam rasa sedang berperang di benakku. Antara marah, kepada Israel yang terus saja tanpa merasa bersalah sedikitpun, membombardir siapapun yang ingin menganggu “kedaulatan” mereka atas nasib orang Palestina. Mungkin juga khawatir, karena dari sekian relawan yang ingin menolong rakyat Gaza lewat Mavi Marmara itu, adalah warga negara Indonesia. Saudara sebangsa setanah air.
Tetapi juga skeptis.