Alhamdulillah. Tanganku masih tergerak untuk menekan keyboard yang tertera huruf-huruf. Rasanya, sudah lama aku tak melakukan ritual ini. Ritual yang sungguh asyik harusnya. Yakni, memfokuskan diri untuk menulis. Ya, sudah lama memang. Setidaknya untuk 2011 ini. Mulai awal tahun hingga detik ini pun, aku masih disibukkan dalam kaitan upaya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari kerja.
Namun, rupanya aku tak boleh melupakan waktu untuk menulis. Saat ini, aku harus memaksa diri, tenggelam diantara belantara ingatan. Dan mengabadikan segala pengalaman yang bisa diabadikan. Tujuannya cuma satu. Kelak, aku berharap, agar anakku tahu, kalau ayahnya bisa meninggalkan sesuatu, yang nilainya lebih dari sekadar harta. Semoga.
Perjalanan hidup memang misteri. Tak ada yang tahu, apa yang hendak terjadi selanjutnya. Ini, adalah hak prerogatif dari Sang Maha Memutuskan. Tiba-tiba, aku teringat dengan kisah legenda, sekaligus fenomenal. Dongeng antah-berantah, dengan tokoh utama bernama Fahri. Tentu kau sudah bisa menebak. Kisah ayat-ayat cinta, karangan Habiburrahman El Shirazy.
Fahri dicintai setidaknya oleh 4 wanita. Namun, ia harus memilih. Dan Fahri memilih 2 diantaranya. Bagiku, dongeng Fahri ini sangat membekas. Bukan karena “keistimewaan”-nya, sehingga dikelilingi wanita-wanita cantik dan kaya. Tapi perjalanan hidupnya di negeri bekas Husni Mobarak, Mesir.
Begitu cepat nasib kita berubah.