Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Monday, 10 August 2026

Kepala Perpustakaan Nasional Jalin Dialog dengan Relima dan Forum TBM Sumatera Barat

Dalam lawatan kerja ke Bukittinggi, Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz menyediakan waktu khusus untuk para relawan literasi. Kesempatan ini dimanifestasikan dalam sebuah dialog, yang mengundang pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Relawan Literasi Masyarakat (relima) di kawasan Sumatera Barat. Dialog berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, bertempat di Ruang Seminar Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Selaku tuan rumah, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Leksi Hedrifa juga turut hadir.

Kegiatan dialog dihadiri puluhan pengelola TBM, serta para relima yang tersebar di kabupaten dan kota se-Sumatera Barat. Dialog dikemas secara santai, untuk saling bertukar pikiran mengenai isu-isu literasi yang dialami para relawan di lapangan. Jumaidi selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, berkesempatan membuka dialog. Jumaidi menyampaikan apresiasi kepada Perpustakaan Nasional, atas program Bahan Bacaan Bermutu (B3) yang disebarkan ke seluruh negeri, termasuk ke Sumatera Barat. Program ini berupa pemberian seribu buku untuk perpustakaan desa atau kelurahan.

Friday, 22 May 2026

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Peringati HUT ke-46 Perpustakaan Nasional Tahun 2026

UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menyelenggarakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Perpustakaan Nasional, pada Senin, 18 Mei 2026. Kepala Subbagian Tata Usaha Fajri Oktaria bertindak menjadi inspektur upacara, yang diikuti segenap ASN dan pegawai outsourcing di lingkungan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Setiap tanggal 17 Mei, Perpustakaan Nasional merayakan hari jadi yang juga bertepatan dengan Hari Buku Nasional.

Friday, 14 November 2025

Peluncuran Buku Karya Guru dan Siswa SMPN 1 Banuhampu

Dalam rangka memperingati bulan bahasa yang jatuh setiap Oktober, SMP Negeri 1 Banuhampu menyelenggarakan Gebyar Literasi Spensaba. Spensaba sendiri merupakan akronim dari SMP Negeri 1 Banuhampu. Salah satu kegiatan Gebyar Literasi Spensaba adalah Spensaba Menulis.

Spensaba Menulis adalah kegiatan di mana para guru dan siswa SMP Negeri 1 Banuhampu menelurkan berbagai karya tulisan. Tulisan ini di antaranya puisi, cerita pendek dan novel. Karya-karya ini kemudian dibukukan, baik itu sebagai buku solo maupun antologi. Spensaba Menulis telah berlangsung sejak tahun 2019. Untuk tahun 2025, tema yang diangkat adalah “Bisikan Hati Sang Pengabdi”.

Thursday, 16 October 2025

Pembukaan Festival Literasi dan Peresmian Gedung Perpustakaan Umum Kota Solok

Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Leksi Hedrifa menghadiri pembukaan Festival Literasi Kota Solok pada Selasa (14/10/2025). Kegiatan Festival Literasi bertempat di Perpustakaan Umum Kota Solok, yang berlokasi di kawasan Terminal Bareh, Solok. Festival ini mengusung tema “Merajut Literasi: Satu Kata, Seribu Karya”.

Festival Literasi Kota Solok dihelat dari tanggal 14 hingga 16 Oktober 2025. Festival Literasi adalah perayaan tahunan yang menghadirkan pengalaman literasi yang inspiratif dan transformatif. Festival Literasi dirancang sedemikian rupa, untuk menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas membaca, menulis dan berbagi pengetahuan di seluruh lapisan masyarakat.

Tuesday, 4 February 2020

Benarkah Tingkat Literasi di Indonesia Masih Rendah…?


Officially, artikel ini adalah tulisan pertamaku di tahun 2020 ini. Tulisan yang kubuat dan sengaja kuunggah di blog. Tujuannya tak lain cuma satu. Agar blog ini terus aktif. Meski kuakui intensitas menulisku sudah jauh berkurang. Namun aku berusaha untuk tetap menulisi blog ini.
Hhmm, tidak hanya sekadar untuk membuat blog ini tetap update. Artikel kali ini juga menjadi salah satu mediaku untuk menorehkan apa-apa yang terbersit di benakku. Seperti judul diatas. Benarkah tingkat literasi di negeri ini masih rendah…?
Barangkali kamu akan penasaran. Kenapa tiba-tiba aku melemparkan isu terkait tingkat literasi ini? Hhmm, tentu ada sebabnya. Pekan lalu, ketika asyik men-scroll linimasa akun Facebook-ku, aku menemukan sebuah artikel. Artikel yang ditulis oleh salah seorang teman di masa SMP.

Tuesday, 11 September 2018

Film Tentang Ahok Bakal Dirilis, Seperti Apa Ya Filmnya?


Mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, tak pernah sepi dari sorotan. Saat ini, pria asal Belitung Timur itu masih menyelesaikan masa hukumannya. Perkiraan, awal tahun 2019 Ahok dapat kembali menghirup udara kebebasan.
Kabar hendak bebasnya Ahok, tentu disambut sukacita oleh para pendukungnya. Simpatisan Ahok yang dikenal sebagai ahokers, sepertinya sudah tidak sabar untuk menyambut kebebasan tokoh yang satu ini.
Ahok memang kondang. Meski ia masih dipenjara, berita tentangnya masih sanggup mencuri perhatian khalayak. Apa pun yang berkaitan dengan Ahok, selalu sukses menjadi sorotan.

Thursday, 31 December 2015

Romantisme Ala Terapis


Judul buku : BULAN NARARYA
Penulis : Sinta Yudisia
ISBN : 978-602-1614-33-4
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : pertama, September 2014
Ukuran dan Tebal : 19 cm; 256 hlm.
Harga : Rp 46.000
Peresensi : Johar Dwiaji Putra

Hal pertama yang terlintas di benakku kala mulai membaca Bulan Nararya adalah: novel ini mempunyai ide cerita yang menurutku cukup berat. Sehingga memerlukan konsentrasi yang prima, kala membaca novelnya, halaman demi halaman. Oke, mungkin ungkapanku terlalu berlebihan. Tetapi masing-masing dari kita sebagai pembaca, tentu memiliki kebiasaan sendiri-sendiri dalam melakukan aktivitas membaca. Misalnya ada tipikal pembaca yang bisa membaca sebuah buku, sambil melakukan aktivitas lainnya. Seperti menonton televisi, mendengarkan musik, makan sesuatu, atau kegiatan yang lain.

Mengingat kesan awalku yang menganggap bahwa jalan cerita Bulan Nararya tidaklah ringan, maka sejak pertama aku membaca novel ini, aku benar-benar mencurahkan perhatianku untuk menyelami kalimat demi kalimatnya. Kucoba untuk tidak melakukan aktivitas yang lain, disaat aku membaca novel ini. Karena penilaian awalku yang menganggap bahwa novel ini memerlukan perhatian yang maksimal.

Thursday, 17 September 2015

Lukisan Berinisial SA


Lukisan Berinisial SA adalah kumpulan cerpen kedua yang dipersembahkan oleh Johar Dwiaji Putra. Setelah menelurkan kumpulan cerpen pertama yang bertajuk Peluru, kali ini Johar menggandeng Leutika Prio untuk menerbitkan kumpulan cerpen keduanya. Sama seperti buku sebelumnya, Lukisan Berinisial SA berisikan 11 cerpen. Berikut cuplikan beberapa cerpen di dalamnya:

Sebuah Hercules perlahan mendekati langit bandara Sentani. Menurut kabar dari pengeras suara, Hercules ini membawa beberapa jasad yang telah berhasil dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat Trisakti Air. Aku masih berharap sebuah keajaiban terjadi. Meski kepala Basarnas telah memastikan bahwa semua awak telah meregang nyawa. (Di Sentani Aku Menunggu)

“Lihat ini. Ini ketika Bapak dan Ibu berhasil mencapai puncak Semeru. Pendakian ini kami lakukan di tahun 1987. Kami dan teman-teman di kelompok pecinta alam, lebih memilih naik ke Semeru. Daripada mencoblos di pemilu. Karena pemenang pemilunya sudah bisa dipastikan,” cerita Ibu. (Nasi Kuning)

Friday, 10 April 2015

Kisah-kisah Seorang Perempuan (introducing to Kumpulan Cerpen Peluru)


Aku, kamu, dan kalian. Kita semua pasti lahir dari seorang perempuan. Muncul dari rahim seorang wanita. Wanita yang kemudian kita sebut sebagai ibu. Takkan ada siapapun yang mampu menggantikan sosok seorang ibu. Betul ‘kan?

Kuakui, ibu adalah seseorang yang paling banyak memberiku cerita. Setiap saat, beliau selalu menampilkan kisah tiada henti. Karena itulah, bersyukurlah buat kita semua, yang masih memiliki kesempatan untuk bersama dengan ibu masing-masing. Karena di sekeliling kita, ada banyak rekan atau tetangga, yang tak lagi seberuntung kita. Mereka, tak lagi bisa bermanja-manja ria bersama ibunya. Mereka, tak lagi dapat mendengar omelan ibu, yang kadang memang mampu membuat kuping panas. Tetapi kuping panas itu, tak ada artinya lagi jika ibu sudah tak berada disisi kita.

“Langit perlahan gelap. Segelap diriku yang dirundung duka. Belum lama, Ibu telah berpulang. Masih di pelupuk mata, tatkala aku ikut menggali tanah untuk menutup jasad Ibu di peristirahatannya yang terakhir. Masih terasa di tanganku, bunga-bunga yang kutaburkan di atas pusaranya. Dan masih jelas tertanam di benakku, nama Ibu yang tertulis tegas di nisan itu. BERLIAN.”

Cuplikan di atas adalah potongan dari cerpen berjudul “Berlian”. Satu dari 11 cerpen yang terangkum di dalam buku terbitan Penerbit Ellunar, yang bertajuk PELURU. Berikut adalah beberapa cuplikan dari cerpen lainnya:

Tuesday, 18 November 2014

AADC 2014 dan Memori Masa Sekolah

Baru-baru ini kita semua dihebohkan dengan munculnya sebuah iklan dari Line. Salah satu media sosial ini menghadirkan fitur find alumni dengan konsep promosi yang waoowww. Line membuat iklan yang berupa film pendek. Bertajuk minidrama Ada Apa Dengan Cinta? versi 2014. Mendengar beritanya saja, aku pribadi sungguh penasaran. Dan setelah melihat videonya di Youtube yang dirilis pada 7 November lalu, aku cuma bisa bilang: WAAOOOWWWWW!

AADC versi 2014 ini merupakan kelanjutan cerita dari AADC versi 2002 silam. Bedanya, kali ini cuma berupa minidrama berdurasi 10 menitan. Itupun didominasi konten promosi dari si pemilik iklan: Line. Meski begitu, minidrama ini sungguh memikat. Tetap memikat seperti cerita awalnya yang diproduksi oleh Mira Lesmana dan Riri Riza, serta disutradarai oleh Rudy Sudjarwo.

Bagiku pribadi, AADC versi 2002 memang jempolan. Menurutku, film ini adalah salah satu film terbaik dalam sejarah perfilman Indonesia. Ceritanya memang sederhana. Seorang gadis remaja yang terkenal gaul, jatuh cinta dengan seorang pemuda yang bertolak belakang. Ya inilah, kisah antara Cinta dan Rangga menjadi fenomena yang menghentak Indonesia pada 2002 lalu.

Thursday, 21 August 2014

Gara-gara Laskar Pelangi: Mamamia vs Indonesian Idol (Bag.2-habis)

Awal Mei 2008. Di kampus sedang hiruk-pikuk menyambut perayaan satu dekade bergulirnya reformasi. Aku masih ingat betul. Kala itu di layar teve sedang marak iklan politik dari Sutrisno Bachir. Iklan yang cukup membekas di benakku. Karena di iklan tersebut tak hanya mengeksploitasi keindahan alam bumi Indonesia. Namun narasi yang disuarakan asli oleh Sutrisna Bachir, juga mengutip puisi dari Chairil Anwar.

Akhirnya.... jadilah resensiku mengenai Laskar Pelangi. Aku menyerahkan naskahku kepada panitia lomba. Hati kecilku tetap berharap, aku menjadi salah satu pemenang. Tetapi jika tidak, juga tak apa. Toh setidaknya aku sudah berusaha. Dan memiliki novel bergizi ini.

Aku menunggu hasil lomba resensi yang telah kuikuti. Menurut panitia, para pemenang akan diberitahu melalui telepon dan sms. Kutunggu-tunggu, rupanya tak ada kabar untukku. Aku nyaris menyimpulkan, bahwa naskah resensiku kalah bersaing. Yah, tak masalah bagiku. Aku mulai membiasakan hal ini. Karena beberapa kali aku mengirim artikel opini ke koran pun, juga tak ada kabar dimuat atau tidak. Menguap begitu saja.

Wednesday, 6 August 2014

Gara-gara Laskar Pelangi: Mamamia VS Indonesian Idol (Bag.1)

Barangkali buku yang akan kuangkat biasa saja. Terlalu populer. Terlalu mainstream. Namun jujur, aku memang mempunyai kenangan khusus terhadap buku ini. Buku ini adalah novel, karangan Andrea Hirata. Yaps...! Mungkin benakmu akan sontak tertuju kepada Laskar Pelangi. Sayangnya benar, tebakanmu tepat.
Kuingat-ingat lagi. Awal mula aku tahu tentang Laskar Pelangi. Ketika berjalan-jalan di toko buku. Kalau tak salah, Laskar Pelangi pernah bertengger di rak buku best seller. Sehingga aku dengan mudah melihat penampakannya saat berada di pintu masuk dari sebuah gerai Gramedia yang kukunjungi.
Kubaca sekilas endorser-endorser yang terpampang di sampul belakang novel ini. Cukup menarik, batinku. Kusimpulkan sepintas, novel ini bercerita tentang sekelompok anak yang hidup di pulau Belitung. Pulau yang baru familiar di kepalaku, tatkala Artika Sari Devi memenangkan kontes Putri Indonesia 2004. Dimana ia mewakili provinsi Bangka Belitung, pecahan Sumatra Selatan.

Saturday, 21 March 2009

Oleh-Oleh dari Purwokerto (part 1)

Akhirnya, aku punya waktu untuk menjabani blog-ku lagi. Seminggu yang lalu, aku baru menghadiri undangan dari Purwokerto. Benar-benar surprise....!!!!!! Finally... I have my first book!!! Meski bukan buku hasil tulisanku seratus persen. Tetapi buku kompilasi atau kumpulan cerpen.

Nah, cerpenku yang berjudul "Adzan" menjadi salah satu pengisi dalam buku yang berjudul "Rendezvous di Tepi Serayu". Aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk STAIN Purwokerto, yang telah menerbitkan buku bertipe sastra ini.

Nah, bagi pembaca sekalian, tunggu dan baca kisah "OLEH-OLEH DARI PURWOKERTO" selanjutnya.

Tuesday, 16 September 2008

Sweet Memories From Childhood

Novel Laskar Pelangi. Pic source: pinterest.com

Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata 
Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta 
Halaman : xi + 529 halaman

Kata orang, masa kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan. Kata orang juga, masa kecil seseorang beserta segala hal yang terjadi di dalamnya, memberikan kontribusi yang besar dalam membentuk mental dan pribadi seseorang tersebut.

Mungkin itu benar adanya, setidaknya bisa kita tengok pada buku yang di sampul depannya tertulis Indonesia’s Most Powerful Book, sebuah novel yang berjudul Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata. Andrea Hirata mencoba menceritakan masa kecilnya dengan sangat indah dan menarik dalam bentuk sebuah buku, lebih tepatnya novel.