Awal Mei 2008. Di kampus sedang hiruk-pikuk menyambut perayaan satu dekade bergulirnya reformasi. Aku masih ingat betul. Kala itu di layar teve sedang marak iklan politik dari Sutrisno Bachir. Iklan yang cukup membekas di benakku. Karena di iklan tersebut tak hanya mengeksploitasi keindahan alam bumi Indonesia. Namun narasi yang disuarakan asli oleh Sutrisna Bachir, juga mengutip puisi dari Chairil Anwar.
Akhirnya.... jadilah resensiku mengenai Laskar Pelangi. Aku menyerahkan naskahku kepada panitia lomba. Hati kecilku tetap berharap, aku menjadi salah satu pemenang. Tetapi jika tidak, juga tak apa. Toh setidaknya aku sudah berusaha. Dan memiliki novel bergizi ini.
Aku menunggu hasil lomba resensi yang telah kuikuti. Menurut panitia, para pemenang akan diberitahu melalui telepon dan sms. Kutunggu-tunggu, rupanya tak ada kabar untukku. Aku nyaris menyimpulkan, bahwa naskah resensiku kalah bersaing. Yah, tak masalah bagiku. Aku mulai membiasakan hal ini. Karena beberapa kali aku mengirim artikel opini ke koran pun, juga tak ada kabar dimuat atau tidak. Menguap begitu saja.
Membaca seperti sebuah gelas yang diisi air. Jika gelas itu sudah tidak mampu menampung air yang masuk, perlu dituangkan ke tempat lain. Penuangan itulah yang kumaksud dengan menulis. (Lan Fang)
Thursday, 21 August 2014
Gara-gara Laskar Pelangi: Mamamia vs Indonesian Idol (Bag.2-habis)
Label:
2014,
andrea hirata,
buku,
generasi muda,
indonesian idol,
komunikasi,
laskar pelangi,
lomba penulisan,
mamamia show,
media,
opini pribadi,
pengalaman pribadi,
penyiaran,
serba serbi
Thursday, 14 August 2014
Hal Simpel dan Murah Meriah oleh Anak Muda #PatriotIsMe
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh anak muda. Karena katanya, energi terbaik yang dimiliki seorang manusia adalah saat berada di usia muda. Usia yang selayaknya diisi dengan berbagai aktivitas produktif. Sebagai generasi muda, aku, kamu, dan lainnya dapat melakukan hal yang positif. Kalau kata AA Gym, mulailah dari 3 hal. Pertama, mulailah dari hal yang kecil. Kedua, mulailah dari diri sendiri. Dan ketiga, mulailah dari sekarang!
Tiga tips dari AA Gym itu simpel dan mudah dilakukan. Tak muluk-muluk. Untuk menjaga lingkungan sekitar misalnya. Aku tidak merokok. Semoga aku bisa konsisten dengan pilihanku ini. Tidak merokok tak hanya untuk diri sendiri. Melainkan juga untuk kepentingan orang lain. Dengan tidak merokok, aku berharap orang di sekelilingku bisa betah dan nyaman. Bisa menghirup udara yang tak terkontaminasi asap rokok.
Selain itu, ada juga hal simpel yang bisa kulakukan untuk menjaga kondusifitas lingkungan sekitar. Yakni dengan membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Misalnya ketika berada di kendaraan. Cobalah menahan diri dengan tidak membuang sampah seenaknya. Sabar sejenak. Kita bisa mengantongi sampah di tas atau saku jaket. Begitu sudah turun dari kendaraan, barulah mencari tempat sampah terdekat untuk membuangnya. Jadi, membuang sampah pada tempatnya dan tidak merokok, adalah aktivitas simpel dan murah meriah untuk menjaga lingkungan agar tetap nyaman.
#PatriotIsMe #Advan #damniloveindonesia
Wednesday, 6 August 2014
Gara-gara Laskar Pelangi: Mamamia VS Indonesian Idol (Bag.1)
Barangkali buku yang akan kuangkat biasa saja. Terlalu populer. Terlalu mainstream. Namun jujur, aku memang mempunyai kenangan khusus terhadap buku ini. Buku ini adalah novel, karangan Andrea Hirata. Yaps...! Mungkin benakmu akan sontak tertuju kepada Laskar Pelangi. Sayangnya benar, tebakanmu tepat.
Kuingat-ingat lagi. Awal mula aku tahu tentang Laskar Pelangi. Ketika berjalan-jalan di toko buku. Kalau tak salah, Laskar Pelangi pernah bertengger di rak buku best seller. Sehingga aku dengan mudah melihat penampakannya saat berada di pintu masuk dari sebuah gerai Gramedia yang kukunjungi.
Kubaca sekilas endorser-endorser yang terpampang di sampul belakang novel ini. Cukup menarik, batinku. Kusimpulkan sepintas, novel ini bercerita tentang sekelompok anak yang hidup di pulau Belitung. Pulau yang baru familiar di kepalaku, tatkala Artika Sari Devi memenangkan kontes Putri Indonesia 2004. Dimana ia mewakili provinsi Bangka Belitung, pecahan Sumatra Selatan.
Label:
2014,
andrea hirata,
ayat-ayat cinta,
buku,
film,
komunikasi,
laskar pelangi,
lomba,
media,
opini pribadi,
resensi,
serba serbi
Monday, 31 December 2012
Habibie & Ainun: Antara Cinta, Spirit, dan Pengabdian untuk Indonesia (Catatan Akhir Tahun Film Indonesia-Bag.2-Habis)
Film Indonesia keempat yang saya tonton di bioskop adalah Habibie-Ainun. Dari awal, saya sangat tertarik untuk menonton film ini. Dari awal saya sudah menjelaskan. Bahwa saya selalu tertarik melihat film yang menceritakan tokoh-tokoh Indonesia. Kali ini tokoh tersebut bukan tokoh sembarangan. Dia adalah B. J. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia.
Habibie-Ainun diadaptasi dari buku berjudul serupa tulisan Pak Habibie sendiri. Buku tersebut adalah buku yang ditulisnya untuk mengenang mendiang istrinya. Ibu negara Hasri Ainun Habibie. Saya belum sempat membaca bukunya. Maka dari itulah, saya harus menonton filmnya di bioskop. Penasaran.
Karena mengangkat kisah seorang Habibie yang pernah menjabat sebagai presiden, tentu film ini akan menyuguhkan berbagai peristiwa yang berhubungan dengan politik. Khususnya mengenai masa reformasi, masa dimana Habibie naik menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Label:
ainun,
bandung,
bunga citra lestari,
dirgantara indonesia,
dokter,
film,
habibie,
iptn,
jerman,
md pictures,
n250,
reza rahadian,
soeharto,
timor timur
Cukup Empat Film Saja (Catatan Akhir Tahun Film Indonesia-Bag.1)
Sejak lama, saya tertarik dengan dunia film. Khususnya film-film buatan dalam negeri. Pertama kali yang membuat saya terpukau adalah, film Petualangan Sherina. Sejak itu, saya percaya. Bahwa perlahan, perfilman Indonesia akan segera bangkit. Film-film lokal tak akan kalah kualitasnya dibandingkan film buatan luar negeri.
Sepanjang 2012 ini, kalau saya tak salah, dari sekian banyak film Indonesia yang dirilis, saya hanya menyempatkan diri untuk menonton 4 film di bioskop. Memang, saya bukanlah tipikal orang yang harus selalu menonton film terbaru melalui bioskop. Ketika saya sempat saja, saya akan mendatangi bioskop. Dan tentunya, bila film yang akan saya tonton tersebut memiliki sesuatu yang menarik, dan membuat saya penasaran untuk melihatnya.
Untuk tahun 2012 ini, film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop adalah Negeri 5 Menara. Saya memutuskan untuk menontonnya, karena film ini diadaptasi dari novel laris karangan Ahmad Fuadi.
Label:
ahmad fuadi,
atiqah hasiholan,
busan,
eru,
film,
garin nugroho,
hello goodbye,
korea,
man jadda wajada,
movie,
negeri 5 menara,
nirwan dewanto,
pondok pesantren,
rio dewanto,
soegija pranata
Tuesday, 9 October 2012
Rendezvous 13 Agustus 2012 yang Dingin
Kadang, kepepet memang mampu menghasilkan kekuatan tersendiri. Buku berjudul "the power of kepepet", sepertinya, perlu saya cari dan baca. Diantara tulisan dibawah, sebagian saya tulis pada Senin, 13 Agustus 2012. Pada masa ramadhan lalu. Saya menuliskannya, saat saya harus bertugas. Bekerja, bekerja sampai malam, tapi hanya untuk memastikan semua event berjalan lancar. Silakan dibaca:
Aku sedang berada di sebuah warnet di tengah kota. Sungguh ajaib, sekaligus berbeda. Biasanya di jam-jam seperti ini, aku sudah terbuai dibalik selimut yang nyaman dan empuknya kasur. Tetapi tidak untuk malam ini. Aku harus berjibaku melawan rasa aras-arasen dan kantuk, agar tetap berada di sini. Di tempat yang sesungguhnya amat tak asing bagiku. Namun.....
Ini kotaku. Rumah yang selalu kurindukan. Tetapi ada yang berbeda dengan hari ini. Dan malam ini. Hari ini seolah menjadi salah satu hari terburuk dalam hidupku. BAD DAY ever. Meski aku tak bisa memungkiri, ada juga pengalaman baru yang kudapatkan hari ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)