Museum
Tsunami berada di pusat Kota Banda Aceh. Tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda
Nomor 3. Secara jarak, Museum Tsunami tidak begitu jauh dari Masjid Baiturrahman,
masjid termasyhur di Aceh. Museum Tsunami berada di seberang Lapangan Blang Padang.
Tatkala melihat fisik luarnya, sungguh, Museum Tsunami memang menonjol
dibanding bangunan-bangunan di sekelilingnya.
![]() |
| Tampak depan Museum Tsunami Aceh. Pic source: dok. pribadi |
Museum
Tsunami, Mahakarya Seorang Ridwan Kamil
Senin,
9 Juni 2025. Aku berkesempatan mengunjungi Museum Tsunami. Hari itu adalah cuti
bersama dan masih dalam suasana Iduladha. Aku datang di waktu menjelang solat
Zuhur. Ternyata, loket penjualan tiket museum sedang tutup. Berdasar keterangan
yang kubaca di loket, Museum Tsunami buka dari jam 09.00 sampai 16.00 WIB.
Museum
Tsunami buka dari hari Sabtu hingga Kamis, hari Jumat tutup. Tiket masuk untuk anak-anak
dan pelajar 3 ribu rupiah per orang. Orang dewasa 5 ribu. Sedangkan untuk
wisatawan atau tamu mancanegara seharga 20 ribu. Sambil menunggu loket penjualan tiket kembali
dibuka, aku mengelilingi sisi luar museum ini. Aku menemukan musola, dan
kutunaikan solat Zuhur.
Selanjutnya
kuamati sejumlah ornamen yang terpajang di dinding luar bangunan museum. Aku
menemukan prasasti yang menjelaskan Museum Tsunami didesain oleh Mochamad Ridwan
Kamil. Kita semua cukup familiar dengan seorang Ridwan Kamil, arsitek sekaligus
politisi yang pernah menjabat Wali Kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat. Tidak
hanya itu, aku juga menemukan prasasti peresmian Museum Tsunami yang
ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009.
Seperti
yang kita tahu, gelombang tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana
ini sontak meluluhlantakkan pesisir Aceh, termasuk Kota Banda Aceh. Pendirian
Museum Tsunami tentu untuk mengenang bencana tsunami, dan mengabadikan proses
pemulihan yang dijalani masyarakat Aceh pascabencana mematikan itu.
Aku
terus mengitari sisi luar bangunan Museum Tsunami. Ada sebuah bangkai
helikopter milik kepolisian yang dipajang di dekat pintu masuk museum. Dari
bangkai helikopter ini, sudah bisa dibayangkan betapa dahsyatnya arus tsunami
yang menerjang daratan kala bencana terjadi.
![]() |
| Bangkai helikopter kepolisian di dekat pintu masuk Museum Tsunami. Pic source: dok. pribadi |
Selanjutnya
aku menemukan kolam berbentuk oval. Di sekeliling kolam ini, dihiasi batu-batu
besar bertulisan nama-nama negara. Dari informasi yang kubaca, mereka adalah negara-negara
yang turun tangan untuk membantu masyarakat Aceh pascabencana tsunami. Ya,
solidaritas dunia internasional sungguh luar biasa dalam menangani bencana
tsunami tersebut.
Dari
kolam oval, aku bergeser ke serambi museum yang memajang papan-papan. Kuamati
papan-papan ini, ternyata berisikan foto-foto yang menunjukkan linimasa
kejadian gelombang tsunami yang melanda Aceh. Dimulai dari informasi soal gempa
berskala besar, yang lantas memicu tsunami. Berikutnya foto-foto yang mengabadikan
kerusakan parah bangunan-bangunan dan infrastruktur. Misalnya jalan aspal yang
retak, dan aneka material yang memenuhi halaman Masjid Baiturrahman pasca
diterjang tsunami.
![]() |
| Material pascatsunami memenuhi halaman Masjid Baiturrahman. Pic source: dok. pribadi |
Aku
terkesima dengan foto-foto penanganan bencana, seperti penggunaan gajah untuk
membantu membersihkan puing-puing akibat tsunami. Ada pula para relawan dan
tentara mancanegara, yang turut hadir melakukan evakuasi di Aceh. Melihat
foto-foto yang dipajang ini, sungguh membuat trenyuh. Bayangkan, bagaimana hancurnya
perasaan masyarakat Aceh kala dihantam bencana dahsyat tersebut.
Memasuki
Museum Tsunami dan Menapaktilasi Bencana 26 Desember 2004
Loket
penjualan tiket kembali dibuka pada pukul 14.00 WIB. Aku mengantre sebentar dan
memperoleh sebuah kartu untuk memasuki museum. Begitu memasuki museum, para
pengunjung langsung disambut Lorong Tsunami (Tsunami Alley). Jujur, saat
melewati Lorong Tsunami aku merinding. Lorong Tsunami didesain setinggi 30
meter. Hal ini merujuk pada ketinggian gelombang tsunami tatkala menghantam
daratan Aceh.
Lorong
Tsunami dibangun dengan pencahayaan minim, untuk menggambarkan suasana gelap
saat orang-orang tersapu gelombang tsunami. Tidak hanya gelap. Terdapat percikan-percikan
air di kanan-kiri dindingnya. Termasuk suara gemuruh air, dan lantunan kalimat
tahlil, laa ilaaha illallah. Atmosfer Lorong Tsunami mengingatkan kita, bahwa
jika Tuhan telah berkehendak, maka apapun bisa terjadi.
Dari
Lorong Tsunami, pengunjung diajak ke sebuah ruangan yang dinamai Ruang Renungan
(Memorial Hall). Ruang Renungan berfungsi memberikan gambaran terkait bencana
tsunami yang pernah melanda Aceh. Terdapat 26 panel media, yang berisi foto-foto
yang menunjukkan betapa parahnya kerusakan yang diakibatkan terjangan gelombang
tsunami. Termasuk, ekspresi emosional warga Aceh kala bencana terjadi. Betapa
pilunya membayangkan mereka yang tiba-tiba harus kehilangan orangtua, sanak
saudara, dan menjadi sebatang kara tanpa diduga.
26
panel media yang berada di Ruang Renungan menyimbolkan 26 Desember yang merupakan
tanggal terjadinya tsunami. Selain 26 panel media, Ruang Renungan juga
menyajikan sebuah layar yang memutar video dokumenter bencana tsunami. Sama
seperti Lorong Tsunami, Ruang Renungan juga didesain dengan pencahayaan minim,
untuk menguatkan kesan keredupan yang menaungi warga Aceh imbas bencana tsunami.
Dari
Ruang Renungan, pengunjung dibawa ke sudut Sumur Doa (Chamber of Blessings).
Sumur Doa dibuat seperti cerobong asap. Berbentuk silinder dan semakin
menyempit ke atas. Ruangannya gelap, namun terdapat cahaya terang di atap, yang
bertulisan kata Allah dalam Bahasa Arab. Pada dinding Sumur Doa diukir
nama-nama korban tsunami. Sumur Doa dibuat sebagai simbol kuburan massal para
korban. Di sini, kita bisa memanjatkan doa untuk mereka.
Selepas
dari Sumur Doa, pengunjung akan melewati sebuah lorong bernama Lorong
Kebingungan (Confusion Alley). Lorong Kebingungan berusaha menghadirkan sensasi
yang pernah dirasakan para penyintas tsunami. Tatkala tsunami menerjang, para
korban merasa bingung dan terombang-ambing, mendapati bangunan di hadapannya
hancur tersapu gelombang air mahadahsyat. Mereka linglung dan tak tahu harus
berbuat apa, melihat keluarganya tewas, dan harta bendanya berantakan atau
hilang.
Memori
Rehabilitasi dan Perdamaian Aceh
Lorong
Kebingungan kemudian menyambung dengan sebuah jembatan. Setelah kuamati,
ternyata jembatan ini melintang di atas kolam oval yang tadi kutemui sebelum
memasuki bagian dalam museum. Jembatan ini dinamakan Jembatan Perdamaian
(Bridge of Peace). Ya, perdamaian menjadi salah satu hikmah yang dirasakan
masyarakat Aceh pascatsunami.
Sebagai
ungkapan terima kasih kepada segenap negara yang telah membantu Aceh
pascabencana, Museum Tsunami menghadirkan penghargaan dengan memajang bendera
dari setiap negara tersebut di atas Jembatan Perdamaian. Di setiap bendera
terdapat kata bermakna “damai” sesuai dengan bahasa nasional masing-masing
negara.
Tak
bisa dipungkiri, bencana tsunami pada 26 Desember 2004 menjadi satu tonggak
penting untuk menapaki ikhtiar baru dalam mencapai perdamaian di bumi rencong.
Selepas dari Jembatan Perdamaian, terdapat sejumlah bagian dan ruangan yang
mengisi Museum Tsunami. Di antaranya ruang pameran tetap, perpustakaan, dan
ruang audiovisual bagi para pengunjung yang ingin menonton dokumenter terkait
tsunami.
Di
sepanjang lorong museum yang melingkar oval, dipajang foto-foto yang
menjelaskan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Proses ini dikomandoi
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Ada pula corner
yang menunjukkan keterlibatan lembaga-lembaga asing yang turut berkontribusi
dalam upaya pembangunan kembali Aceh. Misalnya Bulan Sabit Merah Turki dan
USAID.
Satu
bagian yang patut disorot adalah ruangan yang mengulas proses perdamaian di
Aceh pascatsunami. Hancurnya pesisir Aceh lantaran dihantam tsunami, membuat
Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bergerak nyata untuk
menyudahi permusuhan. Kala itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla berinisiatif untuk mempertemukan
kedua pihak di Helsinki, Finlandia.
Perundingan
berlangsung hingga tercapai kesepakatan yang dituangkan dalam Memorandum of
Understanding (MoU) Helsinki, dan ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Pihak
Indonesia diwakili Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin. Sedangkan pihak GAM
mengutus Malik Mahmud Al Haytar untuk menandatanganinya.
Terdapat
sebuah foto yang menunjukkan Hamid Awaluddin bersalaman dengan Malik Mahmud,
yang ditengahi oleh pihak Finlandia. Ini sebuah foto bersejarah, yang
mengabadikan momen penting dalam perjalanan Aceh dan Indonesia sebagai bangsa.
Ada juga panel media yang menunjukkan halaman pertama MoU Helsinki, serta
halaman pertama Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh. Undang-undang ini semakin mengukuhkan Aceh sebagai bagian
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
![]() |
| Pemerintah RI dan GAM bersepakat lewat MoU Helsinki. Pic source: dok. pribadi |
Jika
kamu sedang berada di Banda Aceh, jangan lupa kunjungi Museum Tsunami. Di sini
tidak sekadar mengenang gelombang tsunami yang mengagetkan dunia pada hari
Minggu pagi, 26 Desember 2004. Namun, ada seutas memori penting yang berkaitan
dengan sejarah perjalanan Aceh, dan Indonesia sebagai negara merdeka. Aceh
memang pernah bergejolak, tetapi gejolak itu akhirnya bisa diredam, dengan
saling memahami. Semata demi kesejahteraan dan keberlangsungan masyarakat Aceh
itu sendiri.
Namun
sayang, di sekitar trotoar gerbang masuk museum dijejali pedagang kaki lima.
Sedikit mengganggu buatku. Alangkah lebih baik jika di sekitar gerbang masuk
museum terbebas dari pedagang, sehingga nilai estetika museum tetap terjaga.
Para pedagang dapat disediakan sudut lain sebagai lokasi khusus untuk berjualan.
*Artikel ini sudah tayang di telusuri.id




No comments:
Post a Comment