Sunday, 25 January 2026

Museum Tsunami Aceh, Menapaktilasi Bencana Dahsyat di Pengujung 2004

Museum Tsunami berada di pusat Kota Banda Aceh. Tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda Nomor 3. Secara jarak, Museum Tsunami tidak begitu jauh dari Masjid Baiturrahman, masjid termasyhur di Aceh. Museum Tsunami berada di seberang Lapangan Blang Padang. Tatkala melihat fisik luarnya, sungguh, Museum Tsunami memang menonjol dibanding bangunan-bangunan di sekelilingnya.

Tampak depan Museum Tsunami Aceh. Pic source: dok. pribadi


Museum Tsunami, Mahakarya Seorang Ridwan Kamil

Senin, 9 Juni 2025. Aku berkesempatan mengunjungi Museum Tsunami. Hari itu adalah cuti bersama dan masih dalam suasana Iduladha. Aku datang di waktu menjelang solat Zuhur. Ternyata, loket penjualan tiket museum sedang tutup. Berdasar keterangan yang kubaca di loket, Museum Tsunami buka dari jam 09.00 sampai 16.00 WIB.

Museum Tsunami buka dari hari Sabtu hingga Kamis, hari Jumat tutup. Tiket masuk untuk anak-anak dan pelajar 3 ribu rupiah per orang. Orang dewasa 5 ribu. Sedangkan untuk wisatawan atau tamu mancanegara seharga 20 ribu.  Sambil menunggu loket penjualan tiket kembali dibuka, aku mengelilingi sisi luar museum ini. Aku menemukan musola, dan kutunaikan solat Zuhur.

Selanjutnya kuamati sejumlah ornamen yang terpajang di dinding luar bangunan museum. Aku menemukan prasasti yang menjelaskan Museum Tsunami didesain oleh Mochamad Ridwan Kamil. Kita semua cukup familiar dengan seorang Ridwan Kamil, arsitek sekaligus politisi yang pernah menjabat Wali Kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat. Tidak hanya itu, aku juga menemukan prasasti peresmian Museum Tsunami yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009.

Seperti yang kita tahu, gelombang tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana ini sontak meluluhlantakkan pesisir Aceh, termasuk Kota Banda Aceh. Pendirian Museum Tsunami tentu untuk mengenang bencana tsunami, dan mengabadikan proses pemulihan yang dijalani masyarakat Aceh pascabencana mematikan itu.

Aku terus mengitari sisi luar bangunan Museum Tsunami. Ada sebuah bangkai helikopter milik kepolisian yang dipajang di dekat pintu masuk museum. Dari bangkai helikopter ini, sudah bisa dibayangkan betapa dahsyatnya arus tsunami yang menerjang daratan kala bencana terjadi.

Bangkai helikopter kepolisian di dekat pintu masuk Museum Tsunami. Pic source: dok. pribadi

Selanjutnya aku menemukan kolam berbentuk oval. Di sekeliling kolam ini, dihiasi batu-batu besar bertulisan nama-nama negara. Dari informasi yang kubaca, mereka adalah negara-negara yang turun tangan untuk membantu masyarakat Aceh pascabencana tsunami. Ya, solidaritas dunia internasional sungguh luar biasa dalam menangani bencana tsunami tersebut.

Dari kolam oval, aku bergeser ke serambi museum yang memajang papan-papan. Kuamati papan-papan ini, ternyata berisikan foto-foto yang menunjukkan linimasa kejadian gelombang tsunami yang melanda Aceh. Dimulai dari informasi soal gempa berskala besar, yang lantas memicu tsunami. Berikutnya foto-foto yang mengabadikan kerusakan parah bangunan-bangunan dan infrastruktur. Misalnya jalan aspal yang retak, dan aneka material yang memenuhi halaman Masjid Baiturrahman pasca diterjang tsunami.

Material pascatsunami memenuhi halaman Masjid Baiturrahman. Pic source: dok. pribadi

Aku terkesima dengan foto-foto penanganan bencana, seperti penggunaan gajah untuk membantu membersihkan puing-puing akibat tsunami. Ada pula para relawan dan tentara mancanegara, yang turut hadir melakukan evakuasi di Aceh. Melihat foto-foto yang dipajang ini, sungguh membuat trenyuh. Bayangkan, bagaimana hancurnya perasaan masyarakat Aceh kala dihantam bencana dahsyat tersebut.


Memasuki Museum Tsunami dan Menapaktilasi Bencana 26 Desember 2004

Loket penjualan tiket kembali dibuka pada pukul 14.00 WIB. Aku mengantre sebentar dan memperoleh sebuah kartu untuk memasuki museum. Begitu memasuki museum, para pengunjung langsung disambut Lorong Tsunami (Tsunami Alley). Jujur, saat melewati Lorong Tsunami aku merinding. Lorong Tsunami didesain setinggi 30 meter. Hal ini merujuk pada ketinggian gelombang tsunami tatkala menghantam daratan Aceh.

Lorong Tsunami dibangun dengan pencahayaan minim, untuk menggambarkan suasana gelap saat orang-orang tersapu gelombang tsunami. Tidak hanya gelap. Terdapat percikan-percikan air di kanan-kiri dindingnya. Termasuk suara gemuruh air, dan lantunan kalimat tahlil, laa ilaaha illallah. Atmosfer Lorong Tsunami mengingatkan kita, bahwa jika Tuhan telah berkehendak, maka apapun bisa terjadi.

Dari Lorong Tsunami, pengunjung diajak ke sebuah ruangan yang dinamai Ruang Renungan (Memorial Hall). Ruang Renungan berfungsi memberikan gambaran terkait bencana tsunami yang pernah melanda Aceh. Terdapat 26 panel media, yang berisi foto-foto yang menunjukkan betapa parahnya kerusakan yang diakibatkan terjangan gelombang tsunami. Termasuk, ekspresi emosional warga Aceh kala bencana terjadi. Betapa pilunya membayangkan mereka yang tiba-tiba harus kehilangan orangtua, sanak saudara, dan menjadi sebatang kara tanpa diduga.

26 panel media yang berada di Ruang Renungan menyimbolkan 26 Desember yang merupakan tanggal terjadinya tsunami. Selain 26 panel media, Ruang Renungan juga menyajikan sebuah layar yang memutar video dokumenter bencana tsunami. Sama seperti Lorong Tsunami, Ruang Renungan juga didesain dengan pencahayaan minim, untuk menguatkan kesan keredupan yang menaungi warga Aceh imbas bencana tsunami.

Dari Ruang Renungan, pengunjung dibawa ke sudut Sumur Doa (Chamber of Blessings). Sumur Doa dibuat seperti cerobong asap. Berbentuk silinder dan semakin menyempit ke atas. Ruangannya gelap, namun terdapat cahaya terang di atap, yang bertulisan kata Allah dalam Bahasa Arab. Pada dinding Sumur Doa diukir nama-nama korban tsunami. Sumur Doa dibuat sebagai simbol kuburan massal para korban. Di sini, kita bisa memanjatkan doa untuk mereka.

Selepas dari Sumur Doa, pengunjung akan melewati sebuah lorong bernama Lorong Kebingungan (Confusion Alley). Lorong Kebingungan berusaha menghadirkan sensasi yang pernah dirasakan para penyintas tsunami. Tatkala tsunami menerjang, para korban merasa bingung dan terombang-ambing, mendapati bangunan di hadapannya hancur tersapu gelombang air mahadahsyat. Mereka linglung dan tak tahu harus berbuat apa, melihat keluarganya tewas, dan harta bendanya berantakan atau hilang.

 

Memori Rehabilitasi dan Perdamaian Aceh

Lorong Kebingungan kemudian menyambung dengan sebuah jembatan. Setelah kuamati, ternyata jembatan ini melintang di atas kolam oval yang tadi kutemui sebelum memasuki bagian dalam museum. Jembatan ini dinamakan Jembatan Perdamaian (Bridge of Peace). Ya, perdamaian menjadi salah satu hikmah yang dirasakan masyarakat Aceh pascatsunami.

Sebagai ungkapan terima kasih kepada segenap negara yang telah membantu Aceh pascabencana, Museum Tsunami menghadirkan penghargaan dengan memajang bendera dari setiap negara tersebut di atas Jembatan Perdamaian. Di setiap bendera terdapat kata bermakna “damai” sesuai dengan bahasa nasional masing-masing negara.

Tak bisa dipungkiri, bencana tsunami pada 26 Desember 2004 menjadi satu tonggak penting untuk menapaki ikhtiar baru dalam mencapai perdamaian di bumi rencong. Selepas dari Jembatan Perdamaian, terdapat sejumlah bagian dan ruangan yang mengisi Museum Tsunami. Di antaranya ruang pameran tetap, perpustakaan, dan ruang audiovisual bagi para pengunjung yang ingin menonton dokumenter terkait tsunami.

Di sepanjang lorong museum yang melingkar oval, dipajang foto-foto yang menjelaskan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Proses ini dikomandoi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Ada pula corner yang menunjukkan keterlibatan lembaga-lembaga asing yang turut berkontribusi dalam upaya pembangunan kembali Aceh. Misalnya Bulan Sabit Merah Turki dan USAID.

Satu bagian yang patut disorot adalah ruangan yang mengulas proses perdamaian di Aceh pascatsunami. Hancurnya pesisir Aceh lantaran dihantam tsunami, membuat Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bergerak nyata untuk menyudahi permusuhan. Kala itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla berinisiatif untuk mempertemukan kedua pihak di Helsinki, Finlandia.

Perundingan berlangsung hingga tercapai kesepakatan yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki, dan ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Pihak Indonesia diwakili Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin. Sedangkan pihak GAM mengutus Malik Mahmud Al Haytar untuk menandatanganinya.

Terdapat sebuah foto yang menunjukkan Hamid Awaluddin bersalaman dengan Malik Mahmud, yang ditengahi oleh pihak Finlandia. Ini sebuah foto bersejarah, yang mengabadikan momen penting dalam perjalanan Aceh dan Indonesia sebagai bangsa. Ada juga panel media yang menunjukkan halaman pertama MoU Helsinki, serta halaman pertama Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Undang-undang ini semakin mengukuhkan Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah RI dan GAM bersepakat lewat MoU Helsinki. Pic source: dok. pribadi

Jika kamu sedang berada di Banda Aceh, jangan lupa kunjungi Museum Tsunami. Di sini tidak sekadar mengenang gelombang tsunami yang mengagetkan dunia pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Namun, ada seutas memori penting yang berkaitan dengan sejarah perjalanan Aceh, dan Indonesia sebagai negara merdeka. Aceh memang pernah bergejolak, tetapi gejolak itu akhirnya bisa diredam, dengan saling memahami. Semata demi kesejahteraan dan keberlangsungan masyarakat Aceh itu sendiri.

Namun sayang, di sekitar trotoar gerbang masuk museum dijejali pedagang kaki lima. Sedikit mengganggu buatku. Alangkah lebih baik jika di sekitar gerbang masuk museum terbebas dari pedagang, sehingga nilai estetika museum tetap terjaga. Para pedagang dapat disediakan sudut lain sebagai lokasi khusus untuk berjualan.


*Artikel ini sudah tayang di telusuri.id

No comments:

Post a Comment