Monday, 6 April 2026

Menemukan Museum Perkebunan Indonesia (Musperin) 2 di Medan

Pada liburan Iduladha 2024, aku mewujudkan keinginanku untuk bertandang ke Medan. Ibu kota provinsi Sumatera Utara ini termasuk dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi. Dari informasi yang kubaca, area Kesawan merupakan kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah di Medan.

Hari Minggu, 16 Juni 2024, aku berjalan-jalan mengelilingi kawasan Kesawan. Dan benar, di area ini banyak berdiri bangunan peninggalan zaman kolonial. Di hadapanku, terpampang berbagai bangunan kokoh yang membuatku berdecak kagum. Kokoh dan dihiasi ornamen-ornamen detail khas kolonial. Aku menemukan sebuah bangunan megah, yang berada di ujung perempatan jalan. Di mataku, bangunan tersebut terasa menarik. Terdapat sebuah kubah di puncaknya, dan jam dengan ukuran yang tidak terlalu besar.

Aku menghampiri bangunan ini. Aku mendongak dan menemukan dua tulisan tahun di dekat kubahnya. Pertama adalah 1918, dan kedua adalah 1919. Berikutnya terdapat plang bertulisan Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS). Aku kemudian beralih ke sebuah pintu masuk, yang di atasnya bertulisan Avros Café. Begitu masuk dan kususuri lorongnya, aku disambut seorang petugas. Ia menyapaku dan memperkenalkan gedung yang sedang kupijak.

Pic source: dok. pribadi


Menemukan Museum Perkebunan Indonesia (Musperin) 2

Rupanya, aku tidak hanya sedang berada di kafe yang bernama Avros ini. Aku sedang memasuki gedung BKS-PPS, yang juga menjadi lokasi Museum Perkebunan Indonesia (Musperin) 2. Musperin? Wah, aku baru tahu museum yang satu ini. Sang petugas memberiku informasi singkat soal Musperin. Ia memberiku sebuah brosur. Dan jika aku hendak memasuki museum, ada tiket berbayar.

Baiklah. Aku kepo dengan museum ini. Setelah membayar, aku dipasangi sebuah gelang kertas sebagai tanda masuk museum. Dari info yang tertera di gelang, harga tiket untuk pengunjung lokal adalah 25 ribu rupiah. Sedangkan untuk pengunjung mancanegara 35 ribu. Tidak hanya brosur dan gelang tanda masuk. Si petugas juga memberiku sebuah kantung berisi sebungkus teh sebagai souvenir.

Musperin 2 berlokasi di Jalan Pemuda Nomor 2, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Museum ini bertempat di gedung cagar budaya milik BKS-PPS. Museum Perkebunan Indonesia digagas dan didirikan oleh Soedjai Kartasasmita. Beliau adalah tokoh bidang perkebunan di Indonesia. Melalui Yayasan Museum Perkebunan Indonesia, Soedjai ingin menjabarkan dunia perkebunan Indonesia mempunyai sejarah perjalanan yang panjang. Termasuk bagaimana industri perkebunan bertahan dan terus berupaya mengantisipasi berbagai tantangan di setiap zaman.

Musperin 2 diresmikan pada 6 Desember 2018. Museum ini berawal dari pemanfaatan lantai satu gedung BKS-PPS, sebagai ruang pamer koleksi. Musperin 2 dikembangkan dengan penataan ulang dan renovasi bangunan BKS-PPS. Termasuk melengkapinya dengan kafe yang berada di lantai satu bagian depan sebelah kiri. Lantai empat yang sebelumnya digunakan sebagai gudang juga dipermak menjadi ruang pameran dan creative space.

Ketika memasuki area pamer museum, aku disambut sebuah media yang memaparkan keunggulan Sumatera Utara dalam bidang perkebunan. Sumatera Utara adalah wilayah perkebunan utama di Indonesia, yang menghasilkan produk-produk unggulan yang masyhur ke seluruh dunia. Di media itu juga menyebut, sebelum Perang Dunia kedua, Medan dan Bandung tercatat sebagai kota tercantik di Asia.


Musperin, Connecting The Past to The Future

Sesuai judulnya, Musperin menyuguhkan berbagai informasi dan serba-serbi terkait dunia perkebunan di Indonesia. Industri perkebunan memang sudah dimulai di Nusantara semenjak masa kolonial Belanda. Terkhusus di Sumatera Utara, komoditi utama perkebunannya adalah tembakau, kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, teh, gula dan kakao.

Pic source: dok. pribadi

Aku mulai mengamati berbagai media yang dipamerkan Musperin 2. Musperin mempunyai slogan Connecting The Past to The Future. Bagiku, museum ini berusaha menghadirkan proses perjalanan perkebunan di masa lalu. Tujuannya untuk bisa dikenang, kemudian diadopsi nilai-nilai positifnya di masa kini. Adanya perkebunan yang menghasilkan komoditas unggul, tentunya berdampak signifikan terhadap perkembangan Kota Medan khususnya, dan wilayah Sumatera Utara pada umumnya.

Salah satu perkembangan yang kentara adalah pembangunan infrastruktur, contohnya keberadaan Pelabuhan Belawan. Dari hasil pengamatanku atas berbagai materi di Musperin, Pelabuhan Belawan telah lama berperan penting dalam arus perpindahan orang dan barang dari Sumatera Utara ke luar daerah, maupun sebaliknya. Aku menemukan sebuah miniatur kapal. Setelah kubaca, kapal ini merupakan bagian dari perusahaan pelayaran Rotterdamsche Lloyd. Kapal-kapal Rotterdamsche Lloyd banyak berlayar dari Belawan, ke berbagai pelabuhan lainnya di Nusantara dan luar negeri.

Pic source: dok. pribadi

Selanjutnya aku menemukan sejumlah alat, seperti mesin ketik, timbangan dan lemari besi. Melihat benda-benda ini, aku sontak membayangkan bagaimana alat-alat ini digunakan pada masa lalu. Aku juga menemukan contoh bibit kelapa sawit dan tembakau. Dua komoditi yang membuat Sumatera Utara memegang peranan penting di bidang perkebunan.

Pic source: dok. pribadi


Sejarah Gedung BKS-PPS

Musperin 2 tidak hanya menyajikan berbagai artefak yang menceritakan sejarah perkembangan perkebunan di Sumatera Utara. Aku mencermati informasi yang menjelaskan gedung tempat keberadaan Musperin 2. Gedung ini adalah kantor Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS). Persis seperti plang keterangan yang kulihat di bagian luar gedung.

Gedung BKS-PPS dibangun pada 1918, dan rampung pada 1919. Tahun inilah yang kemudian diabadikan di fasad bangunan, yang tadi telah kulihat di awal. Kala itu, gedung ini dikenal sebagai gedung AVROS. AVROS sendiri adalah Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera. AVROS adalah Asosiasi Umum Perkebunan Karet di Pantai Sumatera Timur, yang berdiri sejak 1910.

Gedung ini dibangun untuk memfasilitasi kegiatan perkebunan di kawasan Deli, dan kegiatan AVROS secara khusus. Dirancang oleh G.H. Mulder, di mana gaya arsitekturnya dipengaruhi oleh paham rasionalisme yang bangkit pada awal abad kedua puluh. Selain sebagai kantor pusat aktivitas AVROS, gedung ini juga pernah berfungsi sebagai kantor Konsulat Amerika Serikat di Pulau Sumatera.

Setelah Indonesia merdeka, gedung ini tetap difungsikan sebagai kantor Asosiasi Perkebunan. Pada tahun 1957-1964, gedung ini menjadi kantor Gabungan Pengusaha Perkebunan Sumatera (Gappersu). Kemudian pada 1965-1967 berubah nama menjadi Gabungan Perusahaan Sejenis Perkebunan (GPS Perkebunan). Mulai tahun 1967 hingga sekarang, gedung ini menjadi kantor BKS-PPS.

 

Alternatif Wisata di Medan

Mayoritas artefak Musperin 2 memang diletakkan di lantai satu gedung BKS-PPS. Namun, aku masih bisa mengeksplorasi gedung ini hingga ke lantai empat. Saat berada di lantai dua dan tiga, para pengunjung dimohon meminimalisir suara, karena terdapat aktivitas perkantoran para pegawai BKS-PPS. Aku juga sempat menghampiri lantai empat. Tetapi keadaannya relatif agak kosong dan belum tertata rapi seperti display di lantai satu.

Menarik. Aku cukup puas seusai menamatkan kunjunganku ke Musperin 2 kala itu. Bahkan, sebenarnya aku tidak sengaja menemukan museum yang satu ini. Menelusuri Museum Perkebunan Indonesia, bisa menjadi salah satu wisata alternatif saat bertandang ke Medan. Mengunjungi Musperin, kita bisa menekuri sejarah perjalanan perkebunan yang ada di tanah Sumatera Utara.

Pic source: dok. pribadi

Pic source: dok. pribadi

*Artikel ini sudah tayang di telusuri.id

No comments:

Post a Comment