Tema
besar yang diusung Pekan Literasi Bung Hatta pada tahun 2026 adalah: Menjaga
Akar, Merawat Tunas, Mewarisi Pemikiran Bung Hatta. Dalam pelaksanaan Pekan
Literasi Bung Hatta tahun ini, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta bekerja
sama dengan RRI Bukittinggi dalam hal publikasi. Untuk itu, RRI Bukittinggi
menyediakan program khusus untuk mengupas tema yang diangkat dalam Pekan
Literasi Bung Hatta tersebut.
Program ini adalah dialog khusus, yang mengudara secara langsung dari RRI Bukittinggi Programa 4, pada Senin, 10 Agustus 2026. Dialog ini menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz. Bersama Kepala Perpustakaan Nasional, turut hadir Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis dan Dr. Gusrizal Dt Salubuak Basa. Dialog tidak hanya bisa didengar melalui radio, namun juga bisa diikuti melalui siaran streaming di kanal Youtube RRI Bukittinggi.
Dalam
dialog ini, Gusrizal menggarisbawahi keteladanan yang ditunjukkan Bung Hatta
semasa hidup. Bung Hatta tidak sekadar Wakil Presiden pertama Republik
Indonesia. Beliau juga sosok guru bangsa, yang mencontohkan sikap jujur di
segala aspek. Menurut Gusrizal, di masa kini amatlah sulit untuk menemukan
figur yang dapat dijadikan role model, seperti Bung Hatta.
Selain
kejujuran, Gusrizal menyebut peran Bung Hatta dalam mengembangkan koperasi
sebagai sistem ekonomi yang relevan untuk rakyat Indonesia. Dalam berbangsa dan
bernegara, Bung Hatta juga menekankan demokrasi sebagai paham yang selaras
dengan perjuangan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Gusrizal menuturkan, sebagai media massa, RRI Bukittinggi harus terus
mengudarakan sosok Bung Hatta. Bung Hatta yang menjadi contoh konkret figur
brilian yang telah berperan membangun karakter bangsa.
| Pic source: dok. pribadi |
Dari
kacamata birokrat, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis memberikan
pandangannya dalam dialog ini. Menurutnya, generasi muda bagaikan tunas-tunas
yang akan menggerakkan sebuah bangsa. Oleh karenanya, pemerintah berkewajiban
menyediakan regulasi yang jelas, dalam rangka membangun generasi muda yang
menjanjikan. Regulasi tersebut di antaranya melalui aspek pendidikan yang
berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Regulasi
juga diperkuat dengan adanya Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang
Kepemudaan. Menurut undang-undang yang sudah ditetapkan, pemuda didefinisikan
sebagai warga negara berusia 16 sampai 30 tahun. Ibnu Asis menyebutnya sebagai
generasi emas. Dalam tataran pemerintahan Kota Bukittinggi, Ibnu Asis
memaparkan sejumlah program untuk membangun pemuda. Salah satunya adalah surau
gemilang. Surau tidak lagi dipandang sebagai tempat untuk beribadah yang
eksklusif. Melainkan, juga menjadi wadah pembangunan karakter generasi muda
yang efektif dan wahana yang asyik untuk belajar dan bertumbuh.
Berkaitan
dengan Bung Hatta, Ibnu Asis menekankan koperasi sebagai soko guru dalam sistem
perekonomian di tanah air. Koperasi tidak sekadar badan usaha, tetapi merupakan
sebentuk praktik baik di bidang ekonomi yang sudah dirintis oleh Bung Hatta
sedari dulu. Berbicara kekinian, segenap pelaku koperasi harus berbenah untuk
membangun citra yang modern dan solutif. Koperasi harus mampu menjadi jawaban
untuk masalah-masalah riil yang dihadapi masyarakat.
Berbicara
soal Proklamator Bung Hatta, Prof. E. Aminudin Aziz mengimbau para pemuda untuk
mempelajari perjalanan hidup Bung Hatta. Menurutnya, tak sedikit tokoh-tokoh
besar yang dimiliki negeri ini, itu mempunyai perjalanan hidup yang unik.
Begitu juga dengan Bung Hatta. Bung Hatta pada masa kecilnya tetaplah seorang
anak, yang pernah melakukan kenakalan. Namun kenakalan ini bukanlah yang
bersifat fatal dan tetap terukur. Menginjak remaja, sang proklamator mulai
menunjukkan karakternya yang tetap memegang prinsip-prinsip yang dipelajari dan
diyakininya.
Salah
satu yang bisa diteladani dari Bung Hatta adalah kegemaran membacanya. Hal ini
berimplikasi dengan tusi yang dijalankan Perpustakaan Nasional. Sebagai Kepala
Perpustakaan Nasional, dirinya merasa tertantang bagaimana supaya lembaga
perpustakaan bisa berkontribusi dan kemudian bisa melahirkan Hatta-Hatta di
masa kini. Hal ini dapat terwujud jika ekosistem literasi berjalan sebagaimana
mestinya. Penulis dan penerbit harus mengetahui bahan bacaan yang diminati
pembaca. Sementara perpustakaan, bisa memosisikan diri sebagai wahana yang
menyediakan bahan bacaan secara tepat kepada setiap pemustaka.
Dialog
diakhiri dengan pernyataan penutup dari setiap narasumber yang hadir. Dr.
Gusrizal menyampaikan kejujuran sebagai nilai yang mesti diteladani dan
dijunjung oleh siapa pun. Ibnu Asis mengutip lirik lagu Iwan Fals yang berjudul
Hatta. Satu sikap yang bisa ditiru dari seorang Hatta adalah sederhana.
Sedangkan Prof. E. Aminudin Aziz menilik moral integritas yang mesti dipegang
oleh setiap orang, khususnya kaum muda. Selain kejujuran, sikap yang perlu
untuk terus dipupuk adalah tekun. Dengan ketekunan, maka apa yang
dicita-citakan bisa tercapai.
| Pic source: dok. pribadi |
| Pic source: dok. pribadi |
No comments:
Post a Comment