Sunday, 16 August 2026

Dialog Khusus RRI Bukittinggi: Menjaga Akar, Merawat Tunas, Mewarisi Pemikiran Bung Hatta

Tema besar yang diusung Pekan Literasi Bung Hatta pada tahun 2026 adalah: Menjaga Akar, Merawat Tunas, Mewarisi Pemikiran Bung Hatta. Dalam pelaksanaan Pekan Literasi Bung Hatta tahun ini, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta bekerja sama dengan RRI Bukittinggi dalam hal publikasi. Untuk itu, RRI Bukittinggi menyediakan program khusus untuk mengupas tema yang diangkat dalam Pekan Literasi Bung Hatta tersebut.

Program ini adalah dialog khusus, yang mengudara secara langsung dari RRI Bukittinggi Programa 4, pada Senin, 10 Agustus 2026. Dialog ini menghadirkan Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz. Bersama Kepala Perpustakaan Nasional, turut hadir Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis dan Dr. Gusrizal Dt Salubuak Basa. Dialog tidak hanya bisa didengar melalui radio, namun juga bisa diikuti melalui siaran streaming di kanal Youtube RRI Bukittinggi.

Dalam dialog ini, Gusrizal menggarisbawahi keteladanan yang ditunjukkan Bung Hatta semasa hidup. Bung Hatta tidak sekadar Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Beliau juga sosok guru bangsa, yang mencontohkan sikap jujur di segala aspek. Menurut Gusrizal, di masa kini amatlah sulit untuk menemukan figur yang dapat dijadikan role model, seperti Bung Hatta.

Selain kejujuran, Gusrizal menyebut peran Bung Hatta dalam mengembangkan koperasi sebagai sistem ekonomi yang relevan untuk rakyat Indonesia. Dalam berbangsa dan bernegara, Bung Hatta juga menekankan demokrasi sebagai paham yang selaras dengan perjuangan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Gusrizal menuturkan, sebagai media massa, RRI Bukittinggi harus terus mengudarakan sosok Bung Hatta. Bung Hatta yang menjadi contoh konkret figur brilian yang telah berperan membangun karakter bangsa.

Pic source: dok. pribadi

Dari kacamata birokrat, Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis memberikan pandangannya dalam dialog ini. Menurutnya, generasi muda bagaikan tunas-tunas yang akan menggerakkan sebuah bangsa. Oleh karenanya, pemerintah berkewajiban menyediakan regulasi yang jelas, dalam rangka membangun generasi muda yang menjanjikan. Regulasi tersebut di antaranya melalui aspek pendidikan yang berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Regulasi juga diperkuat dengan adanya Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan. Menurut undang-undang yang sudah ditetapkan, pemuda didefinisikan sebagai warga negara berusia 16 sampai 30 tahun. Ibnu Asis menyebutnya sebagai generasi emas. Dalam tataran pemerintahan Kota Bukittinggi, Ibnu Asis memaparkan sejumlah program untuk membangun pemuda. Salah satunya adalah surau gemilang. Surau tidak lagi dipandang sebagai tempat untuk beribadah yang eksklusif. Melainkan, juga menjadi wadah pembangunan karakter generasi muda yang efektif dan wahana yang asyik untuk belajar dan bertumbuh.

Berkaitan dengan Bung Hatta, Ibnu Asis menekankan koperasi sebagai soko guru dalam sistem perekonomian di tanah air. Koperasi tidak sekadar badan usaha, tetapi merupakan sebentuk praktik baik di bidang ekonomi yang sudah dirintis oleh Bung Hatta sedari dulu. Berbicara kekinian, segenap pelaku koperasi harus berbenah untuk membangun citra yang modern dan solutif. Koperasi harus mampu menjadi jawaban untuk masalah-masalah riil yang dihadapi masyarakat.

Berbicara soal Proklamator Bung Hatta, Prof. E. Aminudin Aziz mengimbau para pemuda untuk mempelajari perjalanan hidup Bung Hatta. Menurutnya, tak sedikit tokoh-tokoh besar yang dimiliki negeri ini, itu mempunyai perjalanan hidup yang unik. Begitu juga dengan Bung Hatta. Bung Hatta pada masa kecilnya tetaplah seorang anak, yang pernah melakukan kenakalan. Namun kenakalan ini bukanlah yang bersifat fatal dan tetap terukur. Menginjak remaja, sang proklamator mulai menunjukkan karakternya yang tetap memegang prinsip-prinsip yang dipelajari dan diyakininya.

Salah satu yang bisa diteladani dari Bung Hatta adalah kegemaran membacanya. Hal ini berimplikasi dengan tusi yang dijalankan Perpustakaan Nasional. Sebagai Kepala Perpustakaan Nasional, dirinya merasa tertantang bagaimana supaya lembaga perpustakaan bisa berkontribusi dan kemudian bisa melahirkan Hatta-Hatta di masa kini. Hal ini dapat terwujud jika ekosistem literasi berjalan sebagaimana mestinya. Penulis dan penerbit harus mengetahui bahan bacaan yang diminati pembaca. Sementara perpustakaan, bisa memosisikan diri sebagai wahana yang menyediakan bahan bacaan secara tepat kepada setiap pemustaka.

Dialog diakhiri dengan pernyataan penutup dari setiap narasumber yang hadir. Dr. Gusrizal menyampaikan kejujuran sebagai nilai yang mesti diteladani dan dijunjung oleh siapa pun. Ibnu Asis mengutip lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Hatta. Satu sikap yang bisa ditiru dari seorang Hatta adalah sederhana. Sedangkan Prof. E. Aminudin Aziz menilik moral integritas yang mesti dipegang oleh setiap orang, khususnya kaum muda. Selain kejujuran, sikap yang perlu untuk terus dipupuk adalah tekun. Dengan ketekunan, maka apa yang dicita-citakan bisa tercapai.

Pic source: dok. pribadi

Pic source: dok. pribadi

No comments:

Post a Comment