Tuesday, 22 March 2011

Perjalanan dan Ikhtiar (Part.2 - Welcome to Jakarta!!!!!)

Setiap orang memiliki pilihannya masing-masing. Dan orang yang bersangkutan, wajib mempertanggungjawabkan pilihannya itu. Dari hal yang sifatnya rumit, hingga hal yang remeh-temeh. Salah satunya ini. Setiap orang berhak memilih acara kesukaannya. Televisi telah menyediakan puluhan channel tv untuk alternatif setiap pasang mata yang hendak menonton.

Begitu juga denganku. Berhubung aku belum mempunyai tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan. Maka akan banyak kutemukan waktu luang di sepanjang hari-hariku. Lalu, jadilah aku menonton tv di sore dan malam hari. Saat bosan menonton berita yang isinya cuma bencana dan lemahnya sikap penguasa, kupindah channel ke acara hiburan.

Salah satu hiburan yang tak bisa dihindari, tentu saja drama seri alias sinetron. Ada beberapa stasiun tv yang dari jam 5 sore, hingga jam 10 malam, slot acaranya diisi sinetron. Sinetron yang dihiasi wajah-wajah selebriti yang sedang jaya-jayanya di jagat hiburan.

Thursday, 17 March 2011

Perjalanan dan Ikhtiar (Part.1)

Alhamdulillah. Tanganku masih tergerak untuk menekan keyboard yang tertera huruf-huruf. Rasanya, sudah lama aku tak melakukan ritual ini. Ritual yang sungguh asyik harusnya. Yakni, memfokuskan diri untuk menulis. Ya, sudah lama memang. Setidaknya untuk 2011 ini. Mulai awal tahun hingga detik ini pun, aku masih disibukkan dalam kaitan upaya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mencari kerja.
Namun, rupanya aku tak boleh melupakan waktu untuk menulis. Saat ini, aku harus memaksa diri, tenggelam diantara belantara ingatan. Dan mengabadikan segala pengalaman yang bisa diabadikan. Tujuannya cuma satu. Kelak, aku berharap, agar anakku tahu, kalau ayahnya bisa meninggalkan sesuatu, yang nilainya lebih dari sekadar harta. Semoga.
Perjalanan hidup memang misteri. Tak ada yang tahu, apa yang hendak terjadi selanjutnya. Ini, adalah hak prerogatif dari Sang Maha Memutuskan. Tiba-tiba, aku teringat dengan kisah legenda, sekaligus fenomenal. Dongeng antah-berantah, dengan tokoh utama bernama Fahri. Tentu kau sudah bisa menebak. Kisah ayat-ayat cinta, karangan Habiburrahman El Shirazy.
Fahri dicintai setidaknya oleh 4 wanita. Namun, ia harus memilih. Dan Fahri memilih 2 diantaranya. Bagiku, dongeng Fahri ini sangat membekas. Bukan karena “keistimewaan”-nya, sehingga dikelilingi wanita-wanita cantik dan kaya. Tapi perjalanan hidupnya di negeri bekas Husni Mobarak, Mesir.
Begitu cepat nasib kita berubah.

Sunday, 19 December 2010

Honor Pertama

Pengumuman Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2006 menjadi momen yang pantang kulupakan. Kusebut diriku amat konvensional. Karena bagiku, menembus SPMB berarti sebuah prestasi. Prestasi sekaligus kebanggaan. Tentu saja, lolos SPMB masih menjadi salah satu harapan tertinggi bagi seorang lulusan SMA seperti aku, kala itu.

Menjejakkan kaki di perguruan tinggi negeri adalah sebuah impian, yang rupanya menjadi kenyataan. Seolah melayang jauh ke awang-awang, ketika mendapati nama lengkapku tertera di papan pengumuman SPMB di salah satu universitas di Malang. Ya, aku mendapatkannya, pekikku girang dalam hati.

Berhasil menuntut ilmu di universitas negeri memang sebuah kebanggaan. Itu yang kumaksud dengan konvensional. Masih kuingat mimik sendu bercampur haru di raut bapak ibuku, saat mengetahui anaknya menjadi salah satu yang beruntung bisa menembus ketatnya ujian SPMB. Karena SPMB identik dengan biaya masuk kuliah yang masih cukup terjangkau, kala itu.

Sunday, 14 November 2010

TANPA JUDUL - UNTITLED

Aku sedang menulis di laptop. Ya, laptop. Laptop yang belum sebulan umurnya. Tak terasa, tahun 2009 ini telah berjalan kurang lebih sebulan. Waktu dengan cepat terus berlari. Seakan dikejar-kejar sekawanan anjing yang kelaparan. Anjing-anjing berkutu yang menampakkan taring-taringnya. Dan mulutnya yang dihiasi lendir-lendir air liur yang menjijikkan.
Padahal, sepertinya, aku masih mencium rasa bagaimana aku melihat kembali film Get Married yang diputar di tv saat malam tahun baru silam. Malam dimana katanya tahun 2008 berganti menjadi 2009. Masih juga kuingat, bahwa dimalam itu, bau-bauan mercon dan petasan menghiasi petala langit. Menandakan bahwa tahun baru telah datang. Diiringi berbagai kembang api yang membuat malam layaknya siang hari yang bertabur cahaya kemilauan.
Aku tak tahu ada apa dibalik misteri waktu. Yang jelas, di tanggal 1 Februari 2009 ini, aku telah merasakan bila satu bulan telah terlewati di tahun yang baru. Tak terasa, ya??? Padahal, jika ingin jujur, aku masih ingin untuk terus menapaki bulan Januari. Karena bulan ini dikenal sebagai bulan penuh keceriaan. Bulan penuh kejutan. Bulan mengisi energi untuk setahun kedepan. Dan bulan yang dipenuhi mimpi-mimpi indah, yang harus diwujudkan selama setahun berjalan.

Wednesday, 3 November 2010

Jakartabeat Music Writing Contest I - 2010

Jakartabeat Music Writing Contest I - 2010
“Wajah Musik Indonesia”

Sejak era Bing Slamet yang membius para penggemar hingga era kelompok-kelompok indie yang menggebrak, musik Indonesia senantiasa menyajikan serpihan-serpihan fenomena yang memikat untuk dicatat.

Jakartabeat.net mengundang rekan-rekan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk mengikuti kompetisi menulis musik yang baru pertama kali diadakan ini, untuk turut memberi kontribusi pada peningkatan keragaman jurnalisme musik di Tanah Air, pun pada perkembangan musik Indonesia itu sendiri.

Sunday, 26 September 2010

Sepenggal Kisah Cempaka Lestari



Kasih ibu, kepada beta. Tak terhingga, sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya, menyinari dunia.

Mungkin, kita semua hafal dengan lagu “Kasih Ibu” tersebut. Melalui lagu ini, kita diingatkan tentang sosok ibu. Haahh... ibu. Mama. Bunda. Emak. Mbok. Ummi. Seperti foto yang terpampang diatas. Itu salah satu fotoku bersama ibu. Dari foto ini, aku kembali terngiang dengan satu kenangan bersama ibu.

Kira-kira, foto ini diambil saat aku masih kelas satu SD. Bisa kalian amati. Tinggi badanku masih setengah lebih sedikit, dari tinggi ibu. Sekarang, badanku lebih tinggi darinya. Bersyukur... ini karena bapak dan ibu merawatku amat optimal. Sehingga asupan gizi tak pernah terlewat dari tumbuh kembangku.