Sabtu, 09 Januari 2016

Dibalik (Film) Jendral Soedirman

Aku pribadi adalah orang yang selektif dalam memilih film yang hendak ditonton di bioskop. Menonton film di bioskop sudah pasti merogoh kocek yang nominalnya setara dengan beberapa bungkus batagor. Aku baru memutuskan pergi ke bioskop bila ada sebuah film yang benar-benar mengundang rasa penasaranku. Apalagi jika film tersebut produksi dalam negeri.

Di penghujung Agustus 2015 barusan, muncul satu film yang dari judulnya saja, aku pribadi sudah amat tertarik. Film itu bertajuk Jendral Soedirman. Sejak duduk di sekolah dasar, aku selalu memperoleh pelajaran sejarah, dimana Jendral Soedirman adalah tokoh pejuang yang penting dan luar biasa. Beliau rela berperang secara gerilya, walau sedang terserang penyakit.

Ketika muncul kabar bahwa film Jendral Soedirman akan segera tayang di bioskop, aku cukup antusias. Aku penasaran dengan cerita yang hendak disuguhkan dalam film layar lebar tersebut. Aku ingin rasa keingintahuanku terjawab akan sosok Soedirman. Tokoh yang sepak terjangnya tertulis istimewa di buku-buku sejarah.

Aku ingin sekadar menceritakan pengalamanku saat menonton Jendral Soedirman di hari pertamanya tayang (premiere) di bioskop kemarin. Sebenarnya aku tak terlalu kaget, saat mendapati kursi di teater yang terisi tak sampai separuh. Ini film sejarah, bung! Jendral Soedirman tak ubahnya film bertema cukup berat, yang memang kurang cocok jika menjadikan film ini sebagai sarana untuk relaksasi atau refreshing.

Mungkin akan lain ceritanya bila film yang diputar adalah film bergenre horor atau bernuansa romantis yang dibintangi aktor dan aktris remaja yang sedang naik daun. Atau film-film produksi Hollywood yang visual effect-nya sungguh sempurna memanjakan mata dan imajinasi.

Jendral Soedirman dibuka dengan adegan pemilihan pucuk pimpinan tentara Republik Indonesia, yang dimenangkan oleh Soedirman. Setelah beberapa adegan berikutnya, alur cerita melompat ke masa Desember 1948. Ketika ibukota Indonesia berada di Jogjakarta. Belanda melalui agresi militernya, berusaha membabat Republik Indonesia dengan menyerang Jogja. Kota Jogja dan pangkalan udara Magoewo (sekarang bandara Adi Sutjipto) jatuh ke tangan Belanda.

Menyadari situasi yang genting ini, Jendral Soedirman memutuskan untuk berperang dengan cara gerilya. Ia tidak mengikuti anjuran Soekarno untuk bertahan di dalam kota Jogja. Soedirman lebih memilih berperang, selayaknya seorang tentara.

Cerita terus bergulir menunjukkan lika-liku perjalanan Jendral Soedirman dan anak buahnya yang menembus medan-medan sulit untuk berperang. Selayaknya film peperangan, banyak adegan tembak-menembak dan bom-bom yang meledak. Film diakhiri dengan adegan dimana Jendral Soedirman menuruti perintah Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mengakhiri perang gerilya dan kembali ke Jogja.

***

Bagiku, film Jendral Soedirman bukan hanya sekadar meng-capture perjalanan sang jendral dalam melakukan perang gerilya dari Desember 1948 hingga Juni 1949. Melainkan juga ingin menggarisbawahi sikap-sikap yang diambil oleh Soedirman, sebagai seorang tentara (baca: angkatan bersenjata).

Di awal film, terpampang rentetan tulisan yang menunjukkan siapa-siapa saja yang memproduksi film ini. Pihak pertama yang disebut adalah Letjen (purn) Kiki Syahnakri. Lalu ada Persatuan Purnawirawan TNI AD (PPAD). Kemudian Yayasan Kartika Eka Paksi. Baru disusul Padma Pictures.

Aku yakin, Padma Pictures adalah production house yang menjadi operator dalam proses produksi film Jendral Soedirman. Namun hal yang menarik adalah pihak-pihak lain yang turut berperan dalam produksi film ini. Mereka-mereka yang “berbau” TNI Angkatan Darat.
Fakta ini bukanlah sesuatu yang ganjil. Karena Jendral Soedirman pun merupakan bagian dari angkatan bersenjata. Beliau adalah orang militer, bukan sipil. Karena itulah, setelah menonton film ini sampai habis, aku memiliki beberapa kesimpulan.

Diantaranya ketika Jendral Soedirman menolak ajakan Soekarno untuk bertahan di dalam kota Jogja. Sang jendral lebih memilih berperang secara fisik untuk melawan tentara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia, meski dengan taktik gerilya karena keterbatasan serdadu dan senjata.

Adegan ini ingin menunjukkan, “perbedaan” antara seorang militer dengan kalangan sipil. Sosok angkatan bersenjata sejati tak gentar untuk berperang secara terbuka. Berani mengangkat senjata, walau pihak lawan unggul dalam jumlah persenjataan dan personel. Lain halnya dengan pihak sipil, yang kali ini “diwakili” oleh Soekarno dan Hatta. Mereka lebih memilih berdiam di Gedung Agung Jogja, sambil mengusahakan jalan diplomasi untuk mengakiri pertikaian.

Tidak hanya itu. Ada juga adegan dimana Jendral Soedirman marah, dengan sikap-sikap yang diambil pemerintah yang masih mau untuk melakukan perundingan dengan Belanda, yang dimediatori PBB melalui Komisi Tiga Negara (KTN). Baginya, perundingan tersebut tak ubahnya mengurangi derajat kemerdekaan yang dimiliki Republik Indonesia. Jendral Soedirman hanya menginginkan kemerdekaan penuh! Indonesia yang berdaulat seratus persen.

Kemarahan Jendral Soedirman ini menyiratkan, bahwa pihak militer tidak “dilibatkan” dalam pengambilan keputusan terkait sikap pemerintah di masa pasca agresi militer kedua oleh Belanda.

Hal yang menarik berikutnya, di tengah-tengah melakukan perjalanan gerilya, pasukan Jendral Soedirman menemui pihak yang juga mengenakan atribut tentara. Namun yang membedakan, di seragam tentara-tentara ini terdapat corak berwarna merah. Dari alur cerita, dapat disimpulkan bahwa tentara ini bukanlah tentara resmi Republik Indonesia. Melainkan sisa-sisa personel Partai Komunis Indonesia yang melakukan pemberontakan di Madiun.

Adegan ini semakin menguatkan, bahwa film Jendral Soedirman tak sekadar menceritakan perjalanan sosok Soedirman. Tetapi turut menegaskan peran dan kontribusi angkatan bersenjata, dalam menegakkan kemerdekaan dan memberangus pihak-pihak yang bertentangan dengan dasar negara Pancasila.

Satu adegan yang menurutku menarik adalah, ketika Jendral Soedirman tidak mau menuruti perintah Soekarno untuk kembali ke Jogja, setelah terjadinya kesepakatan untuk menghentikan kontak senjata. Sang jendral baru mau menurut, saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX menitahkan perintah yang sama kepadanya.

Akhirnya, Jendral Soedirman kembali ke Jogja. Di Gedung Agung, beliau telah disambut Soekarno, Hatta, dan tokoh lainnya. Lagi-lagi aku menemukan adegan yang menggelitik. Saat menyambut Soedirman dengan pelukan, Soekarno meminta seorang fotografer untuk memastikan bahwa gambar yang diambilnya sudah tepat! Saat dimana ia menyambut dan memeluk hangat Soedirman. Seolah ingin menggambarkan sosok Soekarno yang “sadar kamera” dan butuh publisitas positif.

Bagiku, film Jendral Soedirman tak sekadar ingin menceritakan perjuangan sang jendral besar. Tetapi juga ingin membumikan sikap militer yang patriotis. Karakter angkatan bersenjata yang rela berkorban, yang menjadikan tanah air lebih berharga ketimbang hal lainnya.

Pesan ini barangkali ingin disampaikan di masa sekarang. Dimana kedaulatan penuh sudah berada dalam genggaman. Pemerintahan baik di pusat dan daerah yang tak lagi didominasi kalangan purnawirawan militer. Bahwa angkatan bersenjata tetap dan akan selalu menjadi pihak yang berada di garda terdepan dalam mempertahankan kedaulatan dan keutuhan bangsa dan negara. Termasuk menjadi perisai yang memagari ideologi Pancasila, dari berbagai gangguan yang mengancam.

Last but not least, kurasa bagi siapapun yang masih menyimpan rasa patriotis kepada Indonesia, seusai menonton film ini, dijamin rasa itu akan meningkat berlipat-lipat. Sense of belonging terhadap bangsa dan negara Indonesia akan menebal seketika!

Kamis, 31 Desember 2015

Romantisme Ala Terapis


Judul buku : BULAN NARARYA
Penulis : Sinta Yudisia
ISBN : 978-602-1614-33-4
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan : pertama, September 2014
Ukuran dan Tebal : 19 cm; 256 hlm.
Harga : Rp 46.000
Peresensi : Johar Dwiaji Putra

Hal pertama yang terlintas di benakku kala mulai membaca Bulan Nararya adalah: novel ini mempunyai ide cerita yang menurutku cukup berat. Sehingga memerlukan konsentrasi yang prima, kala membaca novelnya, halaman demi halaman. Oke, mungkin ungkapanku terlalu berlebihan. Tetapi masing-masing dari kita sebagai pembaca, tentu memiliki kebiasaan sendiri-sendiri dalam melakukan aktivitas membaca. Misalnya ada tipikal pembaca yang bisa membaca sebuah buku, sambil melakukan aktivitas lainnya. Seperti menonton televisi, mendengarkan musik, makan sesuatu, atau kegiatan yang lain.

Mengingat kesan awalku yang menganggap bahwa jalan cerita Bulan Nararya tidaklah ringan, maka sejak pertama aku membaca novel ini, aku benar-benar mencurahkan perhatianku untuk menyelami kalimat demi kalimatnya. Kucoba untuk tidak melakukan aktivitas yang lain, disaat aku membaca novel ini. Karena penilaian awalku yang menganggap bahwa novel ini memerlukan perhatian yang maksimal.

Usahaku sepertinya tidak sia-sia. Seusai merampungkan Bulan Nararya, aku seolah mendapatkan sesuatu pengalaman yang baru. Pengalaman yang baru. Kugarisbawahi kalimat ini. Bagiku, novel ini tidak sekadar buku fiksi yang menghadirkan cerita belaka. Barangkali kita sering merasakan hal ini: setelah membaca sebuah novel, kita akan meletakkannya kembali di rak buku. Lalu dalam sekejap, cerita dan sensasi dari novel yang baru saja kita baca tersebut, akan menguap entah kemana.

Namun, sepertinya tidak bagi Bulan Nararya. Kuakui, setelah aku merampungkan novel ini, berbagai pengetahuan baru telah memenuhi benakku. Mungkin kamu akan penasaran. Kenapa aku bisa berani menghakimi, bahwa Bulan Nararya adalah novel dengan ide cerita yang cukup berat? Jawabannya karena: Bulan Nararya mengangkat ide cerita yang berkaitan dengan masalah psikologi.

Ya, psikologi. Sebagai orang awam, tentu aku tidak begitu paham, mengenai seluk beluk ilmu yang secara harfiah berkaitan dengan kejiwaan dan mentalitas tersebut. Sebelum aku membaca Bulan Nararya lebih jauh, terlebih dahulu aku mengamati permukaan luar dari novel ini. Di cover belakang, terdapat sepotong bagian yang memaparkan keterangan singkat mengenai sang penulisnya. Dari sini, aku mulai mengerti. Karena Bulan Nararya ditulis oleh seseorang yang bernama Sinta Yudisia.

Terlepas dari sepak terjang Sinta Yudisia sebagai aktivis di dunia literasi, aku lebih suka memandang Mbak Sinta dari sudut pandang: bahwa dia adalah seorang pegiat di dunia psikologi. Dari cover belakang novelnya, disebutkan bahwa Mbak Sinta adalah seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi Magister Psikologi Profesi di sebuah perguruan tinggi.

Dari sini aku mulai manggut-manggut. Mengapa Bulan Nararya mengangkat jalan cerita yang berkaitan dengan dunia psikologi. Mungkin salah satunya karena penulisnya adalah seseorang yang paham akan ilmu psikologi, dan bahkan sedang mendalaminya lebih jauh.

Jujur, di awal-awal Bulan Nararya, novel ini telah membuatku harus memaksimalkan konsentrasi dalam membacanya. Jalan cerita dibuka dengan perihal tokoh utama yang bernama Nararya, dimana ia adalah seorang psikolog yang bekerja di sebuah klinik kesehatan jiwa atau bahasa kerennya mental health care. Di sini, Nararya yang akrab disapa sebagai Rara, mengabdi sebagai salah satu terapis. Sesuai dengan titelnya, seorang terapis bertugas untuk melakukan terapi dan treatment, kepada segenap pasien yang menghuni klinik tersebut.

Ada satu hal menarik, yang jujur, cukup membekas di hatiku. Mbak Sinta menurutku begitu piawai, jika kata “bijak” terlalu berlebihan untuk digunakan. Dimana letak kepiawaiannya? Didalam Bulan Nararya, ia memilih untuk tidak menggunakan istilah “pasien”, yang disematkan kepada orang-orang yang dirawat di klinik kesehatan jiwa tersebut. Melainkan memakai kata “klien” (halaman: 17).

Akupun sepakat dengan istilah ini. Karena dengan menyebut klien, terasa lebih bijak dan menghargai orang-orang yang notabene terganggu kesehatan jiwanya itu. Ya, mereka adalah klien. Seorang klien yang sedang menggunakan jasa para terapis, agar keadaannya bisa kembali pulih. Sedangkan bila menggunakan istilah pasien, bagiku terasa terselip makna konotasi yang seolah menjatuhkan para penderita sakit mental tersebut.

Oya, jangan dikira jalan cerita Bulan Nararya hanya berkutat dengan tokoh Nararya/Rara yang tenggelam sebagai seorang terapis untuk klien-klien yang terganggu jiwanya. Novel ini terasa lengkap, karena bumbu romantika juga tersaji tak kalah apiknya, dengan isu psikologi yang telah dijabarkan terlebih dahulu.

Sebenarnya, cerita Bulan Nararya terjadi ketika Rara, sedang memperjuangkan sebuah ide baru yang coba dia tawarkan untuk diterapkan di klinik tempatnya bekerja. Ide itu adalah metode transpersonal. Rara meyakini, bahwa metode ini dapat menjadi salah satu alternatif, sebagai metode pengobatan untuk para klien/penderita sakit mental. Dalam hal ini, klien-klien tersebut adalah mereka yang divonis mengidap skizophrenia.

Tetapi, ide ini tidak serta-merta diterima oleh sang pemilik klinik, yang bernama Bu Sausan. Walau ternyata Bu Sausan tidak sepenuhnya menolak ide yang diajukan oleh Rara tersebut. Namun baginya, para klien masih membutuhkan metode farmakologi atau penggunaan obat-obatan, sebagai cara utama untuk memperbaiki keadaan (halaman: 7).

Ditengah usahanya untuk memperjuangkan metode transpersonal, rupanya Rara juga mengalami masalah pribadi yang cukup pelik. Diceritakan, Rara adalah seorang wanita yang baru saja mengalami perceraian. Setelah sepuluh tahun membina rumah tangga dengan seorang lelaki bernama Angga, Rara memutuskan mengakhiri perkawinannya. Penyebab perpisahan ini pun, amatlah berliku.

Rumah tangga yang tak kunjung disinggahi keturunan, bukanlah penyebab utama perceraian antara Angga dan Rara. Namun, tokoh Angga yang digambarkan sebagai seorang dosen yang flamboyan, membuat Rara mantap mengakhiri ikatannya dengan Angga. Bagi Rara, Angga adalah tipikal lelaki yang membutuhkan pemujaan dari wanita (halaman 30). Hal inilah yang membuatnya terlalu longgar dalam menjalani hubungan suami istri dengan Angga. Meski Angga sendiri tidak pernah berkhianat, namun hubungan pertemanannya dengan banyak wanita, membuat Rara tidak nyaman.

Konflik asmara khas orang dewasa antara Rara dengan Angga, semakin panas karena kehadiran tokoh yang bernama Moza. Yang membuat hati semakin berdesir, karena Moza adalah sahabat dari Rara. Moza juga bekerja di klinik milik Bu Sausan. Bahkan, sebelum Rara mengenal Angga, Rara sudah terlebih dahulu bersahabat dengan Moza sejak masih mahasiswa.

Seusai Angga kembali menjadi single, rupanya menjadi angin segar bagi Moza. Perempuan ini memang telah menaruh hati kepada Angga sejak lama. Tetapi Angga yang lebih memilih berumah tangga dengan Rara, membuat Moza berbesar hati. Namun takdir berkata lain. Moza kembali berjuang untuk mendapatkan Angga. Dan cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Angga menikahi Moza, tak lama setelah ia mengakhiri hubungan dengan Rara.

Menyadari sahabatnya yang telah menjadi istri dari mantan suaminya, membuat Rara kalang kabut. Ia sempat menganggap bahwa Moza adalah musuh terbesarnya. Sahabat yang tega mengkhianatinya! Apalagi, Moza tidak membutuhkan waktu lama untuk mengandung benih dari Angga. Sesuatu yang tidak bisa Rara berikan di sepuluh tahun kebersamaannya dengan Angga (halaman 103).

Tidak hanya berkutat dengan polemik pribadi. Kehidupan Rara yang bekerja di klinik, juga dihiasi interaksinya dengan sejumlah klien. Terdapat beberapa klien yang istimewa dimata Rara. Mereka adalah Pak Bulan, seorang kakek renta yang sebatang kara. Ada pula Sania, seorang gadis remaja yang memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga. Juga ada Yudhistira, seorang pemuda yang telah menikah. Ketiganya adalah klien skizophrenia.

Interaksi dengan ketiga klien ini, membuat Rara sedikit melupakan konflik pribadinya. Apalagi dengan Yudhistira. Seorang lelaki yang mempunyai riwayat yang cukup menyedihkan, sebelum akhirnya harus dirawat di klinik milik Bu Sausan ini. Yudhistira diceritakan sebagai lelaki yang terganggu mentalnya karena menerima tekanan yang amat berat. Ia dikelilingi oleh ibu, ketiga kakak perempuan, dan istri, yang mana mereka semua menuntut banyak hal dari Yudhistira. Terpojok dalam berbagai tekanan dan tuntutan, membuat jiwa Yudhistira goyah tak terbantahkan (halaman 46).

Namun bagi Rara, Yudhistira adalah klien yang berbeda. Rara cukup terhibur dengan Yudhistira yang gemar melukis. Bahkan, sempat timbul keinginan Rara untuk menggunakan kewenangannya, untuk “menguasai” Yudhistira dan memisahkannya dengan Diana, istri Yudhistira.

Sekali lagi, Bulan Nararya adalah kisah romantika yang tidak biasa. Dimana letak tidak biasanya? Karena dibumbui konflik psikologis yang dialami masing-masing tokohnya. Ada Rara, Angga, dan Moza. Juga Yudhistira, Diana, dan Sania. Semua mempunyai jalan cerita yang mengejutkan, meski porsi utama tetaplah berada pada Rara sebagai tokoh utama.

Bagiku, ada tiga titik utama yang bisa disebut sebagai puncak dari jalan cerita novel ini. Yang pertama adalah perihal potongan bunga mawar bercampur darah yang berserakan di depan pintu ruang kerja milik Rara. Kupikir bagian ini adalah sisi misteri yang coba diselipkan sebagai pemanis didalam alur cerita yang bergulir. Namun ternyata aku salah. Bagian ini adalah jalan cerita milik tokoh bernama Sania.

Yang kedua, ketika Rara harus bekerja di luar kota bersama Bu Sausan dan Moza. Di momen ini, akhirnya ia baru tahu bahwa Moza telah menikahi Angga. Hal ini sangat memukul jiwa Rara, yang ternyata masih amat mencintai Angga. Menyadari kenyataan ini, Rara sempat goyah hingga produktivitasnya cukup terganggu. Namun Rara harus tetap berusaha profesional, ditengah hunjaman yang menusuk ulu hatinya (halaman 72).

Sementara yang ketiga adalah, Rara yang akhirnya memutuskan meninggalkan posisinya sebagai terapis di klinik tempatnya bekerja. Ia lebih memilih mengaktualisasikan dirinya, dan mengabdi di divisi lain, yang dimiliki oleh klinik tersebut. Di saat yang sama, Rara yang sempat menganggap bahwa hatinya telah terbagi untuk Angga dan Yudhistira, ternyata tidak demikian. Ia harus mundur teratur, karena alasan profesionalitas dan kode etik yang harus dipegangnya sebagai seorang psikolog atau terapis. Hal ini disebabkan Diana yang akhirnya memutuskan untuk kukuh merawat Yudhistira. Suami yang sempat hampir dicampakkannya.

Overall, bagi siapapun yang sedang merasa galau dan tertekan dengan berbagai masalah yang mendera, mungkin bisa menjadikan Bulan Nararya sebagai salah satu terapi. Novel ini menurutku dapat menjadi bacaan, sekaligus vitamin untuk pikiran dan jiwa yang sedang limbung.

Aku pribadi suka dengan konsep here and now, yang dibahas di novel ini (halaman 93). Ya, di sini dan sekarang. Bahwa apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa yang sedang dihadapi atau dimiliki, inilah yang harus menjadi titik fokus kita dalam menjalani hari-hari. Seharusnya kita tak lagi terjebak di dalam romantisme dan euforia di masa lalu. Masa yang telah lewat.

Aku juga terkesan dan sepakat dengan ending dari konflik yang mendera Yudhistira. Di akhir cerita, ibu Yudhistira yang bernama Weni dan Diana istrinya, saling mendukung untuk kesembuhan Yudhistira. Mereka mengesampingkan ego masing-masing, dan berbesar hati untuk bekerja sama agar Yudhistira dapat kembali seperti semula. Inilah salah satu pesan penting yang coba diutarakan oleh Bulan Nararya. Bahwa dukungan dari keluarga amatlah penting. Khususnya bagi para penderita skizophrenia. Sakit fisik, masih dapat ditoleransi. Namun sakit mental, meski dapat kembali seperti sediakala, bagai residivis yang tak mendapatkan grasi (halaman 52).

Bagiku, ada sedikit kekurangan pada novel ini. Meski sudah ada daftar isi di awal buku, namun di setiap permulaan bab baru, tidak terdapat judul bab yang bersangkutan. Mungkin ini bisa menjadi masukan bagi penulis dan penerbit. Hal baiknya, ada glosarium yang tersedia di halaman terakhir. Glosarium ini begitu membantu, karena mencantumkan beberapa istilah dalam dunia psikologi, yang masih terasa asing bagi orang-orang awam. Dan tentu saja ini akan menjadi pengetahuan baru bagi kita semua.

Kamis, 17 September 2015

Lukisan Berinisial SA


Lukisan Berinisial SA adalah kumpulan cerpen kedua yang dipersembahkan oleh Johar Dwiaji Putra. Setelah menelurkan kumpulan cerpen pertama yang bertajuk Peluru, kali ini Johar menggandeng Leutika Prio untuk menerbitkan kumpulan cerpen keduanya. Sama seperti buku sebelumnya, Lukisan Berinisial SA berisikan 11 cerpen. Berikut cuplikan beberapa cerpen di dalamnya:

Sebuah Hercules perlahan mendekati langit bandara Sentani. Menurut kabar dari pengeras suara, Hercules ini membawa beberapa jasad yang telah berhasil dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat Trisakti Air. Aku masih berharap sebuah keajaiban terjadi. Meski kepala Basarnas telah memastikan bahwa semua awak telah meregang nyawa. (Di Sentani Aku Menunggu)

“Lihat ini. Ini ketika Bapak dan Ibu berhasil mencapai puncak Semeru. Pendakian ini kami lakukan di tahun 1987. Kami dan teman-teman di kelompok pecinta alam, lebih memilih naik ke Semeru. Daripada mencoblos di pemilu. Karena pemenang pemilunya sudah bisa dipastikan,” cerita Ibu. (Nasi Kuning)

Sesosok tubuh ditemukan tergeletak di dekat dipan. Tubuhnya tertutupi selimut berwarna merah, nyaris tak berbusana. Ditemukan kabel earphone yang melilit lehernya. Aku terhenyak sesaat. Benar. Sosok itu seorang perempuan. Tak jauh dari posisi perempuan itu tergeletak, ada seonggok bungkus plastik. Tanpa menyentuhnya aku sudah paham. Bungkus plastik itu adalah kemasan bekas kondom. (Diary Seorang Perempuan)

Pak Mahfud yang bertugas menjadi salah satu among dalam resepsi itu, spontan menyadari bahwa ini bukan angin biasa. Ia tak bisa tinggal diam. Tak ingin suasana semakin kacau, Pak Mahfud langsung merapalkan doa-doa khusus. Di tengah orang-orang yang terkejut dan panik, ia tetap tenang. Khusyuk. Mulutnya berkomat-kamit, seraya mendongakkan kepalanya. Mengedarkan pandangannya kearah terop yang sempat melayang terangkat angin. (Resepsi)

Aku mencelos. Ahh, mendengar melodi Bengawan Solo, malah menerbitkan kegusaran di jiwaku. Membuatku tak tenang. Bengawan Solo tidak hanya menjadi salah satu lagu kesukaanku. Melainkan juga lagu favoritnya. Favorit seorang laki-laki bernama Seno. Ahh, Mas Seno... bagaimana kabarmu sekarang? (Lukisan Berinisial SA)

InsyaAllah, Anda tak akan menyesal seusai membaca buku ini. Pun, buku seharga Rp 31.500 ini, tak akan menguras isi dompet Anda. Bila berminat membaca keseluruhan cerpen di dalam buku ini, silakan komen, inbox FB Johar Dwiaji Putra, atau langsung whatsapp ke 0856 4994 0856.

Bisa juga dengan mengklik link ini.

Terima kasih, dan... selamat membaca!